Korban Penembakan Aparat TNI di Asmat Terpaksa Diamputasi
JUBI.CO.ID | 31/05/2019 16:42
Korban Penembakan Aparat TNI di Asmat Terpaksa Diamputasi
Kepala Kantor Komnas HAM Perwakilan Papua, Frits Ramandey bersama korban Jhon Tatai (25) yang tangan kirinya telah diamputasi – Jubi/Dok Komnas HAM Perwakilan Papua

Jayapura, Jubi –  Jhon Tatai (25), korban penembakan yang terjadi di Distrik Fayit, Kabupaten Asmat, pada 27 Me 2019, telah diamputasi. Jhon Tatai merupakan satu dari lima warga yang menjadi korban penembakan Sersan Kepala FR pada 27 Mei 2019 lalu. Sejumlah empat warga lainnya yakni Xaverius Sai (40), Nilolaus Tupa (38), Matias Amunep (16) dan Fredrikus Inepi (35), tewas saat kejadian.

Kepala Kantor Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Perwakilan Papua, Frits Ramandey ia telah bertemu dengan Jhon Tatai pasca amputasi tangan kirinya itu, Selasa (28/5/2019). Ramandey menyatakan Tatai akan dirujuk ke rumah sakit di Jayapura, untuk mendapatkan pengobatan lebih lanjut.

BACA: Rekonsiliasi tidak menghentikan proses hukum terhadap pelaku penembakan

“Kami sudah bertemu John Tatai, 28 Mei 2019 lalu. Tangan kirinya sudah diamputasi. Keterangan dokter, korban akan dirujuk ke Jayapura untuk tindakan medis lanjutan karena di tangan kanannya diduga masih ada proyektil sehingga harus dibedah,” kata Frits Ramandey kepada Jubi, Kamis (30/5/2019).

Sejumlah empat warga sipil tewas tertembak di Distrik Fayit dan satu lainnya terluka dalam penembakan yang diduga dilakukan FR terhadap massa pendukung calon anggota legislatif (caleg) bernama JT pada 27 Mei 2019. Saat itu, massa pendukung JT tengah merusak rumah salah satu caleg lainnya (bukan Kantor Distrik Fayit sebagaimana pemberitaan sebelumnya), karena JT gagal terpilih menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Asmat dalam Pemilihan Umum (Pemilu) 2019.

Komnas HAM Perwakilan Papua telah melakukan investigasi dan rekonstruksi di lokasi penembakan itu, dengan disaksikan Danrem, pejabat Kodam VXII Cenderawasih dan Polda Papua, Bupati Asmat, Elisa Kambu. Hasil investigasi Komnas HAM Perwakilan Papua pada 28-29 Mei 2019 menyimpulkan masyarakat yang datang ke pusat pemerintahan di Distrik Fayit pada awalnya tidak berniat merusak rumah salah satu caleg DPRD setempat.

Awalnya, para pendukung JT itu hanya mengajak warga di Distrik Fayit untuk bersama-sama pergi ke Agats, ibukota Kabupaten Asmat, untuk memprotes hasil Pemilu 2019. “Namun saat tiba di Distrik Fayit, para pendukung JT melihat rumah caleg lainnya. Mereka akhirnya melampiaskan kekesalan dengan merusak rumah caleg itu,” ujar Ramandey.

BACA: Oknum TNI penembak lima warga Asmat bukan anggota Koramil Fayit

Menurut Ramandey, para pendukung JT tidak memahami jika hasil penghitungan suara caleg akan dihitung bersama rekapitulasi hasil penghitungan dari tempat pemungutan di luar kampung mereka. Para pendukung JT hanya berpegang bahwa JT meraih suara terbanyak di kampung mereka, dan menjadi marah ketika mengetahui JT gagal terpilih menjadi anggota DPRD Kabupaten Asmat.

Kepala Penerangan Kodam XVII Cenderawasih, Kolonel Inf Muhammad Aidi mengatakan dugaan awal bahwa kerusuhan itu dipicu pengalihan perolehan suara caleg tidak terbukti. “Penetapan hasil pemilihan legislatif sepenuhnya adalah kewenangan dan tanggung jawab KPU dalam pengawasan Badan Pengawas Pemilu,” kata Kolonel Inf M. Aidi dalam rilis persnya. (*)

JUBI.CO.ID


BERITA TERKAIT