Suplemen Pengganti ARV Bagi Pengidap HIV AIDS Beredar Ilegal di Papua
JUBI.CO.ID | 13/05/2019 18:28
Suplemen Pengganti ARV Bagi Pengidap HIV AIDS Beredar Ilegal di Papua
Kepala Balai AIDS, Tubercle Bacilius (TB) dan Malaria, Dinas Kesehatan Papua, dr. Berry Watori – Jubi/Roy Ratumakin.

Jayapura, Jubi – Kepala Balai AIDS, Tubercle Bacilius (TB) dan Malaria, Dinas Kesehatan Papua, dr. Berry Watori mengatakan, pihaknya mengindikasi ada keterlibatan oknum-oknum yang menggunakan profesiya untuk melakukan penyebaran terhadap Purtier Placenta tersebut.

“Kami sudah berkoordinasi dengan pihak BPOM, dan pihak BPOM mengatakan bahwa Purtier Placenta tersebut adalah produk ilegal. Nah, kalau sudah ilegal maka tidak mungkin akan ada penyebaran yang begitu intens di Papua khususnya di Kota Jayapura. Saya pikir ini sudah menyalahi aturan,” kata dr. Beery kepada Jubi diruang kerjanya, Senin (13/5/2019).

BACA: Permasalahan penanganan ODHA di Papua

Kata dr. Beery, pihaknya mengindikasi ada keterlibatan oknum-oknum kesehatan yang telah melakukan penyebaran dari suplemen tersebut.

“Kalau untuk teman-teman yang aktif dalam dunia kesehatan atau aktif dalam program pengendalian penyakit menular dari program pemerintah saya boleh katakan tidak ada yang melakukan penyebaran tersebut,” ujarnya.

Namun, dirinya mengindikasi ada teman-teman seprofesi lainnya tetapi yang pekerjaannya di luar lingkup dunia kesehatan atau diluar kebijakan pemerintah yang melakuan hal tersebut.

“Jadi mereka gunakan profesinya untuk melakukan hal-hal yang boleh kita katakan tidak sesuai dengan kaidah-kaidah atau norma-norma pelayanan kesehatan yang sudah ditetapkan. Orang-orang seperti ini bisa dikategorian melakukan mal praktek. Kalau kedapatan maka IDI akan mengambil tindakan tegas dengan menarik status atau profesinya sebagai dokter atau tenaga kesehatan,” katanya.

Untuk itu, diriya berharap kepada seluruh ODHA yang ada di Papua untuk tetap menggunakan ARV.

“Belum ada rekomendasi dari IDI (Ikatan Dokter Indonesia) soal obat untuk ODHA selain ARV,” ujarnya.

Pegiat AIDS Robert Sihombing mengakui adanya pengidap HIV/AIDS di kawasan Sentani, Kabupaten Jayapura yang meninggal setelah beralih dari ARV ke Purtier Plasenta.

BACA: Kawasan Robonghollo segera ditutup dari aktivitas masyarakat

“Memang ada laporan tentang adanya pengidap HIV/AIDS yang meninggal karena tidak lagi mengkonsumsi ARV melainkan beralih ke purtier plasenta yang berbahan dasar plasenta rusa.Namun untuk memastikannya kami masih akan berkoordinasi dengan pegiat lainnya,” kata Robert Sihombing dalam keterangannya kepada wartawan belum lama ini di Jayapura.

Robert mengatakan, dari informasi yang diterima jumlah pengidap AIDS yang sudah beralih dari ARV ke purtier plasenta tercatat 15 orang. (*)

JUBI.CO.ID


BERITA TERKAIT