Dalam Dua Pekan, 2 Narapidana Lapas Abepura Jayapura Meninggal
JUBI.CO.ID | 08/05/2019 10:20
Dalam Dua Pekan, 2 Narapidana Lapas Abepura Jayapura Meninggal
Lapas Klass IIA Abepura di Jayapura, Papua. – Jubi. Dok

Jayapura, Jubi – Sejumlah pihak terkait diminta melakukan investigasi di Lembaga Pemasyarakatan atau Lapas Klas IIA Abepura, Kota Jayapura, Papua, pasca meninggalnya dua narapidana Lapas itu. Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Perwakilan Papua dan polisi juga diminta turun tangan menyelidiki kematian kedua narapidana itu.

Seorang narapidana yang menjalani hukuman di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas IIA Abepura, Maikel Ilintamon (25) meninggal pada 24 April 2019. Pekan berikutnya, narapidana Lapas yang sama Selius Logo meninggal pada 3 Mei 2019.

BACA: Sidang KNPB: skandal kepemilikan amunisi berujung kriminalisasi

Anggota komisi bidang pemerintahan, politik, hukum dan hak asasi manusia (HAM) Dewan Perwakilan Rakyat Papua Laurenzus Kadepa meminta Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM segera menyelidiki penyebab kedua narapidana meninggal di dalam Lapas Abepura dalam jangka waktu yang berdekatan. Kadepa juga meminta Komisi Nasional (Komnas) HAM Perwakilan Papua dan polisi turun tangan menyelidiki penyebab kematian Maikel Ilintamon dan Selius Logo.

Kadepa menyatakan pihak keluarga menilai kedua narapidana meninggal secara tidak wajar, dan menduga kedua narapidana dianiaya. Kadepa menegaskan, dugaan itu harus segera diselediki kebenarannya. “Apakah benar kedua narapidana itu meninggal akibat dianiaya, atau karena sebab lain,” kata Laurenzus Kadepa saat menghubungi Jubi via teleponnya, Selasa (7/5/2019).

Ia menegaskan jika kedua narapidana meninggal karena dianiaya, maka pelaku penganiayaan itu harus dicari. Jika kedua narapidana meninggal karena dianiaya, siapapun pelakunya-sesama narapidana atau petugas lapas-harus dihukum.  

“Kematian kedua narapidana itu juga menandakan lemahnya pengawasan di dalam Lapas. Meski keduanya berstatus narapidana, mereka tetap harus diperlakukan manusiawi, harus dilindungi. Mereka berada dalam Lapas hanya untuk menjalani masa hukumannya,” ujarnya.

Kepala Kantor Komnas HAM Perwakilan Papua, Frits Ramanday mengatakan, beberapa hari lalu pihaknya telah melakukan investigasi di Lapas. Direncanakan investigasi lanjutan dilakukan, Selasa (7/5/2019) siang. “Agendanya memintai keterangan beberapa pihak terkait. Nanti setelah semua rampung baru kami sampaikan hasilnya,” kata Ramandey.

Kepala Lembaga Pemasyarakatan Klas IIA Abepura, Korneles Rumboirusi membantah anggapan ada petugas Lapas Abepura yang menganiaya Maikel Ilintamon. Bantahan itu dikatakan Korneles Rumboirusi kepada wartawan usai bertemu keluarga Maikel Ilintamon, Jumat (3/5/2019) siang.

Rumboirusi menduga Ilintamon meninggal karena lukanya saat dianiaya massa pada 24 April lalu, saat Ilintamon kabur dari Lapas Abepura. Ketika itu Ilintamon bersama sembilan napi lainnya berupaya kabur dari Lapas dengan cara memanjat pagar Lapas. Namun dengan bantuan warga, petugas Lapas dan aparat kepolisian mengejar dan menangkap Ilintamon bersama delapan napi lainnya.

BACA: Sidang gugatan terhadap Kapolres Mimika masuk di tahap pemeriksaan saksi

“Pada saat tertangkap, kondisi almarhum sudah dalam keadaan kritis. Diduga akibat dihajar massa. Ia sempat dibawa ke rumah sakit. Namun pada malam harinya meninggal dunia,” kata Rumboirusi. 

Terkait meninggalnya Selius Logo, Rumboirusi menduga Logo meninggal karena sakit. Rumboirusi menyatakan sebelum meninggal yang bersangkutan menurutnya, sempat dirawat di rumah sakit. Namun, Logo akhirnya meninggal dunia, Jumat (3/5/2019) sekitar pukul 03.00 Waktu Papua. “Diduga karena sakit. Dokter sempat memeriksanya dan keadaannya dalam kondisi baik. Sesuai rekam medis, dia mengalami penyakit biasa,” ucapnya. (*)

JUBI.CO.ID


BERITA TERKAIT