Wabah Diare Serang Puluhan Sapi di Keerom Papua, Tercatat 55 Sapi Mati
JUBI.CO.ID | 10/04/2019 10:30
Wabah Diare Serang Puluhan Sapi di Keerom Papua, Tercatat 55 Sapi Mati
Sapi milik warga Arso, Kabupaten Keerom, Papua, yang terserang diare. – Jubi/Ramah

Arso, Jubi – Diare sapi yang mewabah di Distrik Skanto dan Distrik Arso, Kabupaten Keerom, Papua, dan menyebabkan sedikitnya 55 ekor sapi mati telah menimbulkan kerugian hingga ratusan juta rupiah. Satu peternak bisa kehilangan satu hingga tiga ekor sapi, yang masing-masing bernilai Rp15 juta hingga Rp20 juta.

Seorang warga Arso 4, Ira menyatakan tiga ekor sapinya mati karena diare sejak Februari lalu. “Satu ekor mati pertengahan Februari dan dua ekornya mati Maret,” ujarnya.

BACA JUGA: KPK RI tak tahu kronologis dugaan korupsi di Sorong Selatan

Ira menuturkan, diare membuat sapi peliharaannya tidak mau makan berhari-hari. “(Sapi yang terserang diare seperti) tidak semangat makan berhari-hari, hingga akhirnya mati. Saya sudah laporkan ke Dinas Peternakan Keerom. Kalau dijual, satu ekor bisa dijual Rp15 juta sampai Rp20 juta, karena sudah berumur 2,5 tahun,” tuturnya.

Ira menceritakan, sering kali sapi yang mengalami diare lemas beberapa hari. Ia mengetahui sapi peliharaanya mati saat hendak memberikan makan. Saat itu, sapi peliharaanya yang lain tampak tidak tenang dan gelisah. Setelah memerika semua sapinya, Ira mendapati sapi yang diare telah mati.

Peternak sapi lain di Arso, Mardi, juga menuturkan sapi yang terserang diare mati karena tidak mau makan selama lima hari. “Sapi saya yang mati ada dua ekor awal Maret lalu. Sapi yang mati sama-sama umur tiga tahun. Kalau dijual satu ekor Rp20 juta,” kata Mardi saat ditemui di Arso 4, Distrik Asro, Kabupaten Keerom, Selasa (9/4/19).

Mardi menceritakan, dua ekor sapinya yang mati itu mengalami dehidrasi berat. “Kalau buang air, kotorannya cair tidak seperti biasanya kotorannya padat. Saya sudah laporkan ke Dinas Peternakan di Keerom, katanya sapi mati karena diare,” tururnya.

Kepala Pusat Kesehatan Hewan Arso, Siti Astuti mengatakan, kejadian sapi yang mati di Distrik Skanto dan Distrik Arso terjadi pada 14 Januari 2019. “Warga datang ke Dinas Peternakan Hewan Keerom melaporkan kalau sapinya mati, tidak mau makan, lemas dan buang-buang air atau diare. Januari sampai Februari itu yang paling padat-padatnya warga datang melapor. Warga datang melapor saat sapinya sudah mati, sehingga kami tidak bisa berbuat apa-apa. (Kemungkinan wabah diare itu) dipengaruhi (perubahan) cuaca,” jelasnya.

Menurut Siti, kebanyakan peternak sapi di Skanto dam Arso memiliki sapi sebagai usaha sampingan. Para peternak memiliki pekerjaan pokok lain seperti bertani, sehingga proses pengembangbiakan sapi dilakukan dengan melepaskan sapi di luar kandang, dan sapi dibiarkan mencari makannya sendiri.

“Sapi yang diare kebanyakan sapi dilepas begitu saja (untuk) mencari makan (sendiri). Seringkali gejala diare terlambat diketahui pemilik sapi, dan seringkali baru dilaporkan kepada kami setelah diare berlangsung satu pekan. Kalau mendapatkan penanganan awal yang tepat dan cepat, bisa sembuh. Sebagian besar sapi yang mati karena diare adalah sapi betina yang bunting. Namun ada juga sapi anakan dan sapi jantan yang mengalami diare,” kata Siti.

BACA JUGA: Polres Mimika hadapi gugatan perdata KNPB

Siti mengharapkan para peternak di Kabupaten Keerom lebih kerap memeriksa kondisi sapi peliharaan mereka, dan segera melapor jika sapi mengalami diare. “Sapi yang selamat karena peternaknya telaten, yaitu mengikuti arahan kami. Dengan adanya kasus ini dari sekarang perhatikanlah kesehatan hewan, jangan hanya kasi makan dan minum saja, sudah selesai tapi perhatikan juga asupan gizinya sehingga sapi sehat dan bebas dari penyakit,” ungkapnya. (*)

JUBI.CO.ID


BERITA TERKAIT