Puluhan Ribu Warga Nduga Mengungsi Akibat Konflik Bersenjata
JUBI.CO.ID | 01/04/2019 07:10
Puluhan Ribu Warga Nduga Mengungsi Akibat Konflik Bersenjata
Konferensi pers tim investigasi Nduga di Kantor Amnesty Internasional Indonesia, Jakarta, Jumat (29/3/2019) – Jubi

Jayapura, Jubi – Operasi militer yang dilancarkan pasca pembunuhan brutal terhadap belasan orang yang disebut sebagai pekerja jembatan PT Istaka Karya pada 2 Desember 2018 telah mengakibatkan trauma mendalam bagi masyarakat setempat. Tim independen yang turun ke lapangan menemukan adanya dugaan pelanggaran HAM di Nduga akibat dari operasi militer tersebut.

Masyarakat setempat kehilangan tempat tinggal karena rumah-rumah mereka ikut hancur ketika militer melakukan pengejaran terhadap anggota Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB). Tidak hanya itu, warga juga terpaksa meninggalkan rumah-rumah mereka di beberapa distrik karena khawatir akan menjadi korban dari operasi tersebut.

Puluhan ribu masyarakat setempat terpaksa mengungsi. Warga masyarakat yang mengungsi dari Distrik Mapenduma diperkirakan mencapai 4.276 jiwa; Distrik Mugi 4. 369 Jiwa, Distrik Jigi 5.056 Jiwa, Diatrik Yal 5.021 Jiwa, Distrik Mbulmu Yalma 3.775 jiwa, Distrik Kagayem 4.238 Jiwa, Distrik Nirkuri 2.982 Jiwa, Distrik Inikgal 4.001 jiwa, Distrik Mbua 2.021 Jiwa dan Distrik Dal 1.704 Jiwa.

Sebagian masyarakat dari beberapa distrik, termasuk Distrik Mepworok, Distrik Mbua Distrik Dal, dan Mbulmu Yalama, dan Distrik Dal juga telah mengungsi ke hutan dan bersembunyi di dalam gua-gua mengunakan tenda. Pengungsi yang lain mengungsi di beberapa Kabupaten, antara lain Kabupaten Jayawijaya, Kabupaten Timika, Kabupaten Lani Jaya, Kabupaten Kenyam, dan Kabupaten Asmat.

Baca: Sedikitnya 229 anak pengungsi Nduga terancam gagal ikuti Ujian Nasiona

“Pengungsi yang dimaksud juga termasuk anak-anak sekolah, ibu-ibu, dan lansia. Sejak operasi dilakukan anak-anak tidak bisa bersekolah karena mereka harus mengungsi ke hutan,” kata Theo Hesegem, anggota tim investigasi saat menyampaikan temuan tim investigasi di Kantor Amnesty Internasional Indonesia, Jakarta, Jumat (29/3/2019).

Lanjut Theo, bagi anak-anak yang mengungsi ke Wamena, mereka mulai membuka sekolah darurat mengunakan tenda di halaman Gereja Kingmi Weneroma. Sekolah yang dimaksud kurang lebih berjumlah sekitar 13 Kelas. Proses belajar mengajar bagi anak-anak sedang berlansung selama 3 sampai 4 bulan, sejak Januari 2019. Anak-anak yang bersekolah berjumlah 697 siswa dari SD, SMP dan SMA. Namun jumlah tersebut masih terus bertambah. Hal ini mengancam masa depan nasib ribuan anak-anak di Nduga.

Usman Hamid, Direktur Amnesty International Indonesia mendesak adanya solusi dari kedua kandidat calon presiden dan calon wakil presiden untuk menyelamatkan warga Nduga.

Baca selengkanya di JUBI.CO.ID


BERITA TERKAIT