Malapetaka di Jalan Trans Papua
JUBI.CO.ID | 18/02/2019 06:00
Malapetaka di Jalan Trans Papua
Presiden Jokowi menjajal jalan Trans Papua dengan naik motor trail di ruas Wamena-Mamugu 1, Papua, 10 Mei 2017. Biro Pers Istana Presiden.

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Oleh Soleman Itlay

Penulis adalah anggota aktif Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) St. Efrem Cabang Jayapura, Papua

Lebih dari 100 orang kehilangan nyawa di jalan trans-Wamena-Nduga-Mumugi, Provinsi Papua. Sekitar 2.550 minuman beralkohol (minol) diselundupkan di jalan trans-Jayapura-Wamena. Kurang lebih delapan pelaku pencuri motor (curamor) ditangkap di jalan Wamena-Jayapura. Potensi penyelundupan narkoba dan ganja sangat besar di semua jalan trans di Papua.

Ada peristiwa yang sudah diketahui oleh publik. Tapi ada pula yang belum diakses oleh media massa. Namun, dalam pembahasan ini hanya tulis beberapa kejadian di jalan trans-Jayapura-Wamena dan Wamena-Nduga-Mumugi. Lebih jelasnya kita dapat membaca rekam kejadian yang bersumber dari media dan hasil investigasi penulis, dkk.

Kasus jalan transJayapuraWamena

Oknum TNI/Polri tertangkap basah di jalan trans-Jayapura-Wamena, 1-2 Agustus 2018. Polsek Elelim sudah mengamankan barang bukti bersama dua orang pelaku, yaitu sopir mobil dan pemilik barang. Terdapat  2.550 botol minol berlabel. Jenisnya vodka dan jenis lainnya. Ada sembilan karton dan mobil sebagai barang bukti.

Akhir Agustus, Polsek Senggi, Koramil Senggi dan Satgas 644 Perbatasan menahan delapan pelaku curanmor di Senggi, Kabupaten Keerom. Mereka adalah AJ (23), FI (25), BP (18), SH (27), AH (22), JH (15), OI (27), dan AI (19). Polisi menjerat pelaku dengan pasal 365 ayat (1), dan ayat (3) KUHP. Ancaman hukumnya sekitar 15 tahun penjara. Kini ditahan di Lapas Kelas IIA Abepura.

Tidak hanya itu. Pengedaran obat-obatan terlarang, terutama narkoba dan ganja pun diduga kuat beroperasi di jalan trans ini. Dulu para bandar dan pengedar sulit menembus bandara Sentani—satu-satunya akses ke Wamena dan daerah pemekaran lain. Namun kini akses terbuka lebar setelah ada jalan trans-Wamena-Jayapura.

Kasus pengedaran narkoba dan ganja di jalan ini belum ditemukan. Namun bisnisnya sudah berjalan sejak pemerintah mengumumkan jalur tersebut bisa diakses oleh masyarakat umum. Para pengedar menjalankan bisnis dengan leluasa. Mereka merasa aman dengan pemeriksaan yang kurang ketat.

Dampaknya di Wamena dan daerah pemekaran sangat terasa. Banyak anak mengonsumsi narkoba dan ganja dengan bebas. Hingga kini belum ada penanganan serius oleh penegak hukum. Aparat hanya bisa meringkus Apianus Logo (36) di kampung Pirambot, Distrik Wolo, perbatasan Kabupaten Jayawijaya dan Mamberamo Tengah beberapa waktu lalu, tapi belum mengungkap jaringan lainnya.

KLB di jalan transWamenaNdugaMumugi

Baca opini lengkap Soleman Itlay di JUBI.CO.ID


BERITA TERKAIT