KOLOM JUBI: Orang Asli Papua Menjadi Minoritas Sejak 2010
JUBI.CO.ID | 11/02/2019 08:10
KOLOM JUBI: Orang Asli Papua Menjadi Minoritas Sejak 2010
Anak-anak bermain di Kampung Asmat, distrik Mimika Timur, Kabupaten Mimika, Papua, akhir pekan lalu. Masyarakat Papua berencana akan menggelar Kongres Papua III pada 16-19 Oktober 2011 mengangkat tema "Menegakkan Hak-hak Dasar Orang Asli Papua di Masa Kini dan Masa Depan". ANTARA/Fanny Octavianus

Oleh: Felix Degei

Penulis adalah mahasiswa pascasarjana asal Tanah Papua yang sedang kuliah di jurusan Master of Education di The University of Adelaide Australia Selatan

Orang Asli Papua (OAP) sedang minoritas di atas tanah leluhurnya sendiri adalah fakta. Ada beberapa sumber terpercaya telah mengungkap fenomena tersebut. Misalnya Data Sensus Penduduk Menurut Klasifikasi Suku 2010 dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Papua. Dari total 28 kabupaten dan 1 kota madya di Provinsi Papua ada empat kabupaten dengan angka non-OAP lebih tinggi dari OAP. Itulah potret kecil dari masalah besar yang sedang melanda Bumi Papua saat ini, ibarat fenomena gunung es (iceberg).

Tulisan ini diolah dari infografis yang didesain oleh Koran Jubi berdasarkan Data Sensus Penduduk BPS 2010 bertajuk “Jumlah Penduduk Menurut Klasifikasi Suku Provinsi Papua”. Tabel tersebut mengungkap sejak tahun 2010 OAP sudah minoritas secara kuantitas di atas tanah leluhurnya sendiri.

Tulisan ini bertujuan membuka diskursus baru ataupun menumbuhkan rasa penasaran (coriousity) dalam meneliti ataupun mengkaji apa saja faktor penyebab munculnya kesenjangan antara jumlah OAP dan non-OAP, melakukan studi perbandingan (comparative study) untuk mengetahui trend terbaru, dan apakah OAP semakin minoritas atau sebaliknya, serta kajian lain yang berkaitan dengan eksistensi OAP di Tanah Papua.

Secara keseluruhan ada 29 kabupaten/kota di Provinsi Papua yang terdiri dari 28 kabupaten dan 1 kota hingga saat ini. Empat dari total 29 kabupaten/kota di Provinsi Papua pada tahun 2010 memiliki angka non-OAP lebih banyak dari OAP. Keempat kabupaten tersebut antara lain: Merauke, Nabire, Mimika, dan Keerom.

Pertama: Merauke; OAP=72.826 (37,21%) jiwa dan non-OAP=122.890 (62,78%) jiwa dari total 195.716 (100%) jiwa. Kedua: Nabire; OAP=62.040 (47,76%) jiwa dan non-OAP=67.853 (52,23%) jiwa dari total 129.893 (100%) jiwa. Ketiga: Mimika; OAP=75.068 (41,24%) jiwa dan non-OAP=106.933 (58,75%) jiwa dari total 182.001 (100%) jiwa. Keempat: Keerom; OAP=19.698 (40,58%) jiwa dan non-OAP=28.838 (59,41%) jiwa dari total 48.538 (100%) jiwa.

Data di atas adalah potret kesenjangan jumlah antara OAP dan non-OAP di Tanah Papua pada tahun 2010 silam. Fenomena tersebut bisa saja berubah seiring jalannya waktu. Entah OAP semakin minoritas ataupun sebaliknya. Namun beberapa temuan analisis terdahulu membuktikan jumlah OAP semakin minoritas di atas tanah leluhurnya sendiri.

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Tahun 2009 dalam Buku ‘Papua Road Map’ mengidentifikasikan empat akar permasalahan di Tanah Papua. Kajian tersebut mengungkapkan bahwa masalah prinsipal atau utama yang terjadi di Papua adalah marjinalisasi dan efek diskriminatif terhadap OAP akibat pembangunan ekonomi, konflik politik, dan migrasi massal ke Papua sejak 1970. Kondisi seperti ini tentu akan mengancam eksistensi OAP hingga terus menjadi minoritas dalam berbagai aspek pembangunan.

Lebih lanjut hasil analisis oleh Profesor Jim Elmslie (2010) dari Pusat Studi Konflik dan Perdamaian, Universitas Sydney Australia dalam laporan berjudul “West Papuan Demographic Transition and the 2010 Indonesian Census: Slow Motion Genocide or not?” menyimpulkan secara keseluruhan di Provinsi Papua pada tahun 1971 jumlah OAP sebanyak 887.000 dan tahun 2000 meningkat menjadi 1.505.405 jiwa. Artinya pertumbuhan penduduk per tahun sebesar 1,84%. Sementara jumlah penduduk non-OAP tahun 1971 sebanyak 36.000 dan tahun 2000 meningkat menjadi 708.425 jiwa. Jadi, persentase pertumbuhan penduduk non-OAP per tahun sebesar 10,82%.

Baca opini bernas Felix Degei selengkapnya di JUBI.CO.ID 


BERITA TERKAIT