Surat-surat Gembala Ungkap Dosa Politik Gereja di Papua
JUBI.CO.ID | 04/02/2019 13:59
Surat-surat Gembala Ungkap Dosa Politik Gereja di Papua
Pendeta Benny Giay, Ketua Sinode KINGMI (kiri), Pdt. Socratez Sofyan Yoman, Presiden Gereja-Gereja Babtis Papua (tengah), dan Pdt. Dorman Wandikbo, Presiden Gereja Injili di Indonesia Papua (kanan), saat jumpa pers pada suatu kesempatan – Jubi/Dok

TINDAKAN represif negara dan orang-orang Indonesia terhadap orang asli Papua terus mendorong gereja-gereja Papua untuk bersuara. Gereja-gereja terus melawan rasisme dengan kekuatan injil dan iman.

“Rasisme adalah (salah) satunya”. Demikian tulis para Gembala pada alasan pertama yang menjadi alasan pokok kekerasan Indonesia di Papua, yang terus mendorong terbitnya surat-surat gembala, dalam kata sambutan buku “Surat-Surat Forum Kerja Oikumenis Gereja-Gereja Papua”.

BACA JUGA: Parkop: PNG dan Indonesia jangan takut, beri kemerdekaan buat Bougainville dan West Papua

Buku yang diluncurkan pada 25 Januari 2019 di gedung P3W Padangbulan, Kota Jayapura ini, memuat 14 surat gembala selama tahun 2012-2018.

Ada juga surat bersama tiga pemimpin gereja—Pendeta Benny Giay Ketua Sinode Gereja Kemah Injil (KINGMI) di Tanah Papua, Pendeta Socratez Sofyan Yoman sebagai Presiden Gereja-Gereja Babtis Papua (PGGBP), dan Pendeta Dorman Wandikbo sebagai Presiden Gereja Injili di Indonesia (GIDI) Papua. Selain itu, ada juga surat-surat individu.

Dalam surat-surat itu dibuka dengan satu surat gembala Pdt. Benny Giay berjudul “Refleksi HUT GKI di Tanah Papua yang ke-96”.

“Dosa politik badan pekabaran Injil di tanah Papua masa lalu dan tugas gereja membawa pemulihan,” tulis Giay.

Giay mencontohkan dua kasus sebagai dosa politik gereja masa lalu. “Badan pekabaran (Injil) itu bekerja untuk serahkan Papua ke NKRI.”

BACA JUGA: Masyarakat Adat Papua dalam peninjauan kembali RTRW

Pasca penyerahan, menurut Giay, gereja turut mendukung pembunuhan orang Papua. Ribuan orang meninggal (diduga) atas persetujuan gereja.

Para pendeta KINGMI dalam 1977/1978 bekerja sama dengan bupati Paniai dan kodim Nabire adakan operasi militer di Jila dan Bela, Alama. Banyak jemaat KINGMI yang tewas (hlm. 26-28).

Untuk cerita lengkap tentang surat-surat gembala gereja-gereja di Papua baca di TABLOIDJUBI.COM


BERITA TERKAIT