Warga Nduga di Pengungsian: Terserang Penyakit, Kekurangan Makanan dan Luka Tembak
JUBI.CO.ID | 14/01/2019 07:00
Warga Nduga di Pengungsian: Terserang Penyakit, Kekurangan Makanan dan Luka Tembak
Ibu-ibu dan anak-anak di Distrik Yigi datang ke pusat distrik dari pengungsian mereka untuk bertemu dengan tim evakuasi. Mereka berharap ada layanan kesehatan di Yigi pasca kekerasan bersenjata di distrik tersebut - Jubi/Victor Mambor

Wamena, Jubi – Tim kesehatan provinsi Papua dibantu dinas kesehatan Kabupaten Nduga yang diturunkan untuk melakukan pelayanan kesehatan di sejumlah distrik terdampak dari konflik di Nduga, telah kembali ke Wamena usai melakukan pengobatan terhadap masyarakat. Dari hasil pemeriksaan selama tiga hari 8-10 Januari 2019 di distrik Mbua, Dal dan Mbulmu Yalma, Kabupaten Nduga ditemukan banyak penyakit yang dialami masyarakat saat dalam pengungsian.

Koordinator tim medis pada tim kemanusiaan yang dibentuk pemerintah Provinsi Papua, Dr Beery I.S Wopari mengungkapkan, dari hasil pemeriksaan terhadap keluhan masyarakat, kebanyakan penyakit yang dialami disebabkan oleh kurangnya pasokan makanan saat mereka memilih untuk mengungsi.

“Dalam pelayanan tim medis dengan situasi geografis, cuaca, memang ada beberapa penyakit yang dominan di daerah pelayanan, baik pada orang dewasa maupun pada anak-anak,” katanya kepada wartawan di Wamena, Jumat 11 Januari 2019 malam.

BACA JUGA: DAP: Apa gunanya ekspor kayu, jika milik pengusaha non Papua

Ia menambahkan, pada orang dewasa lebih banyak kasus sakit nyeri sendi, nyeri tulang, sakit pada seluruh badan dan sakit kepala. Ditambah dalam suasana mencekam, ada beberapa kasus tekanan darah tinggi yang terjadi pada orang dewasa baik laki-laki maupun perempuan. Sementara untuk anak-anak, bayi dan balita, panyakit yang mendominasi adalah flu, batuk, Infeksi Saluran Pernafasan (ISPA) kemudian juga diare hingga cacingan selain luka-luka. Dijumpai pula beberapa ibu hamil yang berada dalam kelompok yang mengungsi.

“Kasus-kasus ini kita coba tabulasi untuk melihat permasalahan yang ada di sana secara menyeluruh, terkait dengan kondisi-kondisi situasi yang dialami masyarakat. Baik mereka yang menyingkir sementara untuk
menyelamatkan diri dan masuk di hutan sembunyi maupun  anak-anak yang ikut bersama orang tua mereka,” katanya.

Selain itu kata Wopari, banyak orang dewasa mengeluhkan nyeri pada ulu hati atau yang biasa diistilahkan sakit maag. Kondisi ini terjadi karena kesulitan mendapatkan makanan selama mengungsi di hutan.

“Dari analisa kami sebenarnya penyakit maag ini disebabkan karena masyarakat punya pola makan tidak dalam jumlah yang cukup. Mereka sudah terbiasa dengan jumlah yang terbatas. Namun saat ini mereka mengalami kesulitan untuk bisa mengakses makanan dari kebun mereka,” katanya.

Hal ini ujarnya, bukan karena masalah kekeringan atau kerusakan kebun, tetapi masyarakat sulit mencapai kebun mereka untuk mengakses sumber makanan dan mengolahnya Karen situasi keamanan yang tidak kondusif.

“Ini yang memicu terjadinya sakit pada ulu hati. Jadi kami berikan obat untuk mengurangi keluhan itu. Karena asam lambung yang meningkat ditambah kondisi stress masyarakat, penyakit ini muncul,” ujar Wopari.

Selain itu, anak-anak yang ikut mengungsi banyak yang terluka. Luka anak-anak ini karena terjatuh saat mengungsi.

Informasi yang diterima tim kesehatan dari warga saat melakukan pengobatan, lanjut dokter Beery Wopari, ada tiga orang dewasa yang terluka karena tembakan, namun pasien tersebut tidak datang berobat sehingga tim hanya memberikan obat untuk mengurangi rasa sakit.

“Ada tiga kasus luka tembak tetapi pasiennya tidak datang ke tempat pelayanan dan mereka hanya utus kurir untuk melaporkan sakitnya dan kami memberikan obat untuk mencegah infeksi lebih lanjut,” ujarnya.

BACA JUGA: Kapolda Papua: Jangan kerahkan massa selesaikan sengketa Pemilu

Hingga kini tim kesehatan ini masih membuat rekapitulasi jenis-jenis penyakit, dan juga jumlah kasus per jenis penyakitnya. Tetapi untuk sementara yang datang dalam pelayanan kesehatan itu lebih banyak perempuan dan anak-anak.

Warga sempat ragu pada tim kesehatan yang datang
Anggota tim medis yang tergabung dalam tim kemanusiaan provinsi Papua, Elianus Tabuni mengaku tim yang diturunkan berjumlan 16 orang yang terdiri dari dokter spesialis, dokter umum, perawat kesehatan ditambah
dengan tim dari dinas kesehatan Kabupaten Nduga. Pelayanan selama tiga hari itu hanya di tiga titik di Mbua, Dal dan Mbulmu Yalma ditambah satu tempat di distrik Ilekma, Jayawijaya karena banyak masyarakat yang mengungsi ke Wamena.

Sebenarnya tim juga merencanakan untuk masuk ke Distrik Yigi pada hari ketiga, namun karena kendala situasi yang tidak memungkinkan, tim kembali ke Wamena dan melakukan pelayanan di Wamena.

“Kami koordinasi terkait dengan situasi terakhir di sana dengan TNI, mereka menyarankan kami untuk tidak memasuki wilayah distrik Yigi karena masih ada suara tembakan tetapi tidak tahu dari mana sumbernya. Tetapi diduga ini tanda atau situasi tidak baik untuk melanjutkan perjalan ke distrik Yigi,” kata Elianus Tabuni.

Untuk berita selengkapnya baca TABLOIDJUBI.COM


BERITA TERKAIT