Tolak Uang Kompensasi Rp 4 Miliar, Keluarga Korban Paniai Berdarah Tagih Janji Jokowi
JUBI.CO.ID | 09/12/2018 15:00
Tolak Uang Kompensasi Rp 4 Miliar, Keluarga Korban Paniai Berdarah Tagih Janji Jokowi
Obteh Gobay (kanan), orang tua Apius Gobay masih menunggu keadilan - AI

Jayapura, Jubi - Obeth Gobay, orang tua dari Apius Gobay, salah satu siswa yang meninggal dunia dalam insiden Paniai Berdarah, 7 Desember 2014 lalu menolak kompensasi senilai 4 miliar  yang ditawarkan pemerintah.

“Nyawa anak saya tidak dijual di pasar. Pak Jokowi, Kapolri, keadilan harus ada,” kata Obeth Gobay di Kantor Amnesty International, Jakarta, Jumat 7 Desember 2018.

Obeth datang ke Jakarta menagih janji Presiden Jokowi yang pernah berjanji menuntaskan kasus Paniai Berdarah.

BACA JUGA: DPRD Jayapura dukung rencana penataan kota Sentani

“Dulu sudah pernah saya sampaikan pada komisioner HAM PBB, kalau pemerintah Indonesia tidak sanggup selesaikan, kami minta PBB yang turun tangan,” lanjut Obeth.

Peneliti Amnesti International Indonesia, Papang Hidayat menjelaskan bahwa kompensasi dalam kasus seperti yang dialami oleh siswa yang tewas ditembaki aparat keamanan di Paniai, adalah pengganti proses pengadilan.

"Kalau pak Obeth terima kompensasi itu, maka dia sudah tidak boleh lagi ngomong soal kasus anaknya,” ujar Papang.

Jokowi sendiri pernah berjanji di hadapan masyarakat Papua pada Desember 2014.

BACA JUGA: Pendapatan APBD melalui pangan lokal harus diperkuat

"Saya ingin kasus ini diselesaikan secepat-cepatnya, agar tidak terulang kembali di masa yang akan datang. Kita ingin, sekali lagi, tanah Papua sebagai tanah yang damai,” kata Jokowi di depan masyarakat Papua saat ibadah Natal nasional di Stadion Mandala, Jayapura, Sabtu (27/12/2018).

Pada 7 Desember 2014 personel polisi dan tentara secara brutal menembak kerumunan warga di Lapangan Karel Gobay, Paniai yang sedang melakukan protes damai atas penganiayaan Yulianus. Penembakan ini menewaskan empat pemuda Papua yang seluruhnya pelajar. Mereka adalah Apius Gobay (16), Alpiys Youw (18), Simon Degei (17), dan Yulian Yeimo (17). Penembakan juga mengakibatkan setidaknya 11 warga sipil terluka. (*)

TABLOIDJUBI.COM


BERITA TERKAIT