Protes Sanksi Atas Militer, Pemerintah Cina Panggil Dubes Amerika
TEMPO.CO | 23/09/2018 13:31
Presiden Cina, Xi Jiping, menginspeksi latihan perang Angkatan Laut PLA di Laut Cina Selatan, Kamis, 12 April 2018. CNN -- Xinhua
Presiden Cina, Xi Jiping, menginspeksi latihan perang Angkatan Laut PLA di Laut Cina Selatan, Kamis, 12 April 2018. CNN -- Xinhua

TEMPO.CO, Jakarta - Otoritas Cina memanggil duta besar Amerika Serikat dan atase pertahanan untuk menyampaikan protes keras terhadap sanksi ekonomi yang jatuhkan Washington terkait pembelian jet tempur dan rudal dari Rusia.

 

Baca: 

Rusia: Sanksi AS ke Militer Cina Bentuk Persaingan Tak Sehat

 

Cina juga memanggil pulang komandan Angkatan Laut, yang sedang berkunjung ke AS, sebagai bentuk protes keras.

Kementerian Pertahanan Cina mengatakan AS tidak berhak campur tangan dalam kerja sama militer Cina dengan Rusia.

“Kami menuntut AS segera memperbaiki kesalahan dan mencabut apa yang disebut sanksi. Jika tidak AS akan menanggung konsekuensinya,” begitu pernyataan kementerian Pertahanan Cina seperti dilansir AP News, Minggu, 23 September 2018.

 

Baca:

Beli Senjata RusiaCina Desak Amerika Cabut Sanksi Atas Militer

Kementerian Luar Negeri Cina mengatakan telah memanggil Duta Besar AS di Cina, Terry Branstad. Wakil Kepala Komisi Militer Pusat untuk Kerja Sama Militer Internasional, Huan Xueping, juga telah memanggil atase militer pertahanan AS pada Sabtu malam.

Huan mengatakan Cina akan segera memanggil pulang Komandan Angkatan Laut, Shen Jinlong, yang saat ini berada di AS untuk menghadiri simposium. “Militer Cina memiliki hak untuk mengambil tindakan balasan lebih lanjut,” kata Huang seperti dilansir Xinhua News dan dikutip AP News.

 

Baca: 

Beli 5 Senjata Moderen Rusia, Militer Cina Kena Sanksi Amerika

 

AS memberikan sanksi berupa pelarangan visa untuk Departeman Pengembangan Peralatan Cina dan direkturnya Li Shangfu. Sanksi itu itu juga melarang Cina melakukan transaksi dengan sistem keuangan AS, dan memblokir semua properti yang berada dalam yurisdiksi AS.

F-22 Raptor adalah pesawat tempur paling canggih di dunia saat ini. Rusia dan Cina mengembangkan jet tempur siluman untuk menyaingi F-22 Raptor. Rusia menciptakan Su-57 yang telah menyelesaikan uji cobanya, sedangkan Cina telah mengoperasikan J-20 Chengdu bahkan mengirimnya ke Laut Cina Selatan. lockheedmartin.com

Washington mengatakan pembelian senjatan oleh China dari Rosoboronexport, yang merupakan eksportir senjata terbesar Rusia, melanggar sebuah UU 2017. UU itu dibuat untuk menghukum pemerintahan pimpinan Presiden Vladimir Putin karena terlibat intervensi terhadap pemilu AS dan aktivitas lainnya.

 

Baca: 

Beli Senjata ke Rusia, Militer Cina Kena Sanksi Amerika Serikat

 

Kementerian Luar Negeri AS mengatakan Kepala Departemen Pengembangan Peralatan Militer Cina, Li Shangfu, melakukan transaksi signifikan seperti membeli pesawat tempur Su-35 pada 2017 dan peralatan sistem terkait sistem rudal anti-serangan udara S-400 pada tahun ini.

“Sanksi ini diberlakukan untuk lebih menimbulkan biaya pada pemerintah Rusia sebagai respon atas kegiatan jahatnya. AS akan terus mendesak semua negara untuk membatasi hubungan dengan sektor pertahanan dan intelijen Rusia, yang keduanya terkait dengan kegiatan jahat di seluruh dunia,” begitu pernyataan dari Kementerian Luar Negeri AS.

 Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, seperti dilansir Sputnik News mengatakan sanksi AS ini tidak adil dan merugikan Rusia sebagai salah satu eksportir senjata.

 

AP NEWS | SPUTNIK NEWS | AQIB SOFWANDI


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT