Gempa Lombok, PUPR Ajak Mahasiswa Jadi Fasilitator Pembangunan Rumah
TEMPO.CO | 27/08/2018 17:41
Ketua MPR RI Zulkilfli Hasan meninjau pos induk pengungsi Desa Kekait, Kecamatan Gunung Sari, Lombok Barat, dan titik bencana gempa terparah di Dusun Kerujuk, Desa Pemenang, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, Senin, 27 Agustus 2018.
Ketua MPR RI Zulkilfli Hasan meninjau pos induk pengungsi Desa Kekait, Kecamatan Gunung Sari, Lombok Barat, dan titik bencana gempa terparah di Dusun Kerujuk, Desa Pemenang, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, Senin, 27 Agustus 2018.

TEMPO.CO, Jakarta - Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) bakal merekrut mahasiswa jurusan teknik dari berbagai universitas untuk menjadi relawan pendamping korban gempa Lombok di Nusa Tenggara Barat.

Baca juga: Jusuf Kalla Pimpin Rapat Penanganan Korban Gempa Lombok

"Kami membutuhkan setidaknya 2 ribu mahasiswa untuk mendaftar ke PU," ujar Direktur Jenderal Cipta Karya Kementerian PUPR Danis Sumadilaga di Kantor Kementerian Komunikasi dan Informatika, Senin, 27 Agustus 2018. Para mahasiswa itu nantinya akan bergabung dalam 370 tim bentukan Kementerian PUPR.

Danis tak menyebut banyak persyaratan untuk pendaftar relawan pendamping tersebut. "Yang penting mahasiswa teknik, nanti akan kami latih," ujar Danis. Ia menyebut pendaftaran itu dilakukan di kementeriannya. Namun, Danis belum menceritakan secara detail ihwal perekrutan tersebut.

Tugas dari mahasiswa itu adalah untuk menjadi fasilitator dari Kementerian PUPR guna membantu masyarakat dalam membangun atau memperbaiki rumahnya yang terkena dampak gempa beberapa waktu lalu.

Danis mengatakan metode yang akan digunakan dalam perbaikan rumah warga adalah gotong royong. Artinya, masyarakat ikut memperbaiki dengan pendampingan dari Kementerian PUPR. "Itu kita harapkan sebenarnya enam bulanĀ agar tidak terlalu lama di pengungsian," ujar Danis.

Nantinya, masing-masing pemilik rumah akan mendapatkan dana dari pemerintah dengan besaran Rp 50 juta untuk rumah rusak berat, Rp 25 juta untuk rusak sedang, dan Rp 10 juta untuk rusak ringan. Sebanyak 100-150 rumah akan didampingi oleh satu tim fasilitator yang terdiri dari sembilan orang pendamping dari berbagai kalangan.

"Mereka akan berkeliling, memeriksa, 'Ini loh kamu uangnya harus digunakan untuk membangun rumah'. Yang penting masyarakat sendiri yang membangun bukan kontraktor," kata Danis.

Saat ini, korban gempa Lombok sudah mulai membersihkan rumah bersama Tentara Nasional Indonesia. Danis menyebut sejauh ini ada sekitar 5 ribu rumah yang teridentifikasi rusak berat. Kepastian jumlah rumah yang rusak masih menunggu Surat Keterangan dari Bupati setempat.

Pemerintah juga masih melakukan verifikasi berdasarkan data awal yang diperoleh. Verifikasi itu akan mempertimbangkan beberapa kriteria, antara lain visual dan teknikal. "Sebab ada rumah yang secara visual terlihat masih bagus, kalau sudah rubuh sudah pasti rusak berat," ucap Danis.

Perbaikan rumah para korban gempa Lombok direncanakan awal September 2018. Saat ini pemerintah masih menggeber perbaikan fasilitas umum untuk bisa fungsional pada Desember 2018.

"Untuk pembangunan rumah, ituĀ bisa dimulai nanti bulan September ini, dan diperkirakan saran dari Pak Wapres (Jusuf Kalla) bisa selesai dalam tempo enam bulan," ujar Danis.

Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), telah terjadi 1.002 gempa susulan sejak gempa utama 7 skala Richter (SR) pada 5 Agustus 2018 hingga 22 Agustus 2018 pukul 14.00 WITA. Dari 1.002 gempa tersebut, terdapat 45 kali gempa dirasakan dengan magnitude 3-6,9 SR pada kedalaman 10-23 km.

Akibat serangkaian gempa Lombok tersebut, data BNPB per 22 Agustus 2018 pukul 04.00 WITA mencatat terdapat 402.529 warga pengungsi, 555 warga meninggal dunia, 76.765 rumah rusak berat, serta 1.229 fasilitas umum dan tempat ibadah rusak.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT