Mendag Jelaskan Soal Hubungan Harga Telur yang Naik dengan Rupiah yang Melemah
TEMPO.CO | 11/07/2018 14:30
Mendag Jelaskan Soal Hubungan Harga Telur yang Naik dengan Rupiah yang Melemah
Seorang petugas laboraturium Bavarian State Office of Health and Food Safety memecahkan telur untuk dilakukan pengecekan penggunaan fipronil insektisida di Erlangen, Jerman, 10 Agustus 2017. Jutaan telur ayam telah ditarik dari rak supermarket Eropa akibat ketakutan penggunaan fipronil insektisida. REUTERS/Andreas Gebert

TEMPO.CO, Jakarta -Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menjelaskan penyebab naiknya harga telur ayam yang mencapai Rp 30 ribu. Dia mengatakan melemahnya rupiah menyebabkan harga telur ayam di pasaran ikut naik.

"DOC (day old chiken) juga naik, harga beli pakan meningkat," ujar Enggartiasto di Kantor Kemenko Perekonomian, Rabu, 11 Juli 2018.

Enggartiasto mengatakan imbas dari melemahnya kurs rupiah terhadap dolar AS menyebabkan harga pakan ternak meningkat. Untuk mengatasi melonjaknya harga telur, Kemendag mengajak para penjual pakan ternak membicarakan hal ini.

Dia mengatakan sudah berkoordinasi dengan Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar). Dia menugaskan Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri untuk menyelesaikan naiknya harga salah satu pangan.

Harga telur ayam negeri naik dari semula Rp 24 ribu hingga Rp 28 ribu menjadi Rp 30 ribu per kilogram. “Harga telur lagi naik. Ini telur dipasok dari Gunung Agung, Jawa Tengah. Harga jual sudah dipatok sama bos pengecer,” kata Akhyarrudin (27), pedagang telur di Pasar Mayestik, Selasa, 10 Juli 2018.

Tak hanya pembeli yang mengeluh karena berkurangnya jumlah telur dan cabai yang dapat dibeli. Pedagang pun merasa penjualannya turun akibat kenaikan harga telur ayam. 

CHITRA PARAMAESTI I AUDREY ANGELICA LOHO


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT