Indonesia Menggigil di Musim Kemarau, Ini Penjelasan BMKG
TEMPO.CO | 07/07/2018 05:30
Indonesia Menggigil di Musim Kemarau, Ini Penjelasan BMKG
Petani memetik cabai rawit matang di sentra pertanian Desa Cibodas, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, 6 Januari 2017. Meroketnya harga cabai rawit karena sedikitnya panen dan serangan penyakit patek. TEMPO/Prima Mulia

TEMPO.CO, Jakarta - Ini alasan Indonesia menjadi lebih dingin belakangan ini, padahal musim kemarau sedang mendekati puncaknya. Alsan itu adalah angin Monsun dari Australia yang sedang menuju Asia via Indonesia.

Kepala Bagian Humas Badan Meteorologi,  Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Hary Tirto Djatmiko mengatakan Indonesia mendapatkan pengaruh dari aliran massa dingin dari Australia yang menuju ke Asia. “Aliran massa dingin itu menyebabkan perubahan suhu menjadi lebih dingin di sejumlah wilayah Indonesia yang berada di sebelah selatan garis khatulistiwa,”  ujar Hary Tirto kepada Tempo Jumat 6 Juli 2018.

Wilayah yang terkena dampak, kata Hary, mulai dari Sumatera Selatan, Lampung, Banten, Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, NTT, dan Bali.

Di media sosial beredar informasi mengenai suhu di Bandung yang mencapai 15°C. Menurut Hary, itu bukanlah yang terdingin.

“Suhu minimum yang terjadi di Bandung pernah 12,4°C pada Juli 1986 dan di Lembang pernah 9,8°C pada Juli 1991. ”

Simak juga: Viral Suhu Dingin karena Aphelion, Ini Penjelasan Lapan

Ia menjelaskan bahwa suhu di Bandung yang sekarang masih berada di tatanan normal. Saat ini memang berada di puncak musim kemarau (Juli-Agustus), yang ditandai dengan suhunya lebih dingin, siang lebih panas, anginnya lebih kencang.

“Masyarakat tak perlu khawatir dan resah. Yang penting mempersiapkan diri menghadapi udara dingin ini,” ucap humas BMKG. */**

 


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT