Varian Delta Menyebar di Indonesia, Epidemiolog: Lemahnya Pengawasan Pemerintah
TEMPO.CO | 24/06/2021 10:50
Personil Satpol PP melakukan operasi yustisi di Kawasan Cipinang, Jakarta, Selasa, 15 Juni 2021. Operasi itu untuk menegakan penerapan protokol kesehatan, terutama dalam penggunaan masker guna menekan penyebaran virus corona disaat peningkatan derastis ka
Personil Satpol PP melakukan operasi yustisi di Kawasan Cipinang, Jakarta, Selasa, 15 Juni 2021. Operasi itu untuk menegakan penerapan protokol kesehatan, terutama dalam penggunaan masker guna menekan penyebaran virus corona disaat peningkatan derastis kasus aktif positif COVID-19 di DKI Jakarta. TEMPO/Muhammad Hidayat

TEMPO.CO, Jakarta - Varian Delta menjadi salah satu penyebab semakin tingginya kasus Covid-19 di Indonesia. Epidemiolog dari Griffith University Dicky Budiman, mengatakan, lemahnya pengawasan di pintu masuk ke Indonesia, menjadi salah satu faktor utama virus varian B1617.2 asal India ini lolos masuk ke Indonesia.

"Yang dominan lemah adalah di kapasitas 3T. Di penguatan skrining, deteksi kasus secara dini, termasuk juga surveillance di pintu perbatasan, itu kelemahannya," kata Dicky saat dihubungi Tempo, Kamis, 24 Juni 2021.

Meski begitu, Dicky mengatakan lemahnya 3T tetap bukan faktor tunggal. Perilaku masyarakat yang longgar dalam menerapkan protokol kesehatan juga mendukung percepatan penyebaran ini. Karena itu, Dicky melihat wajar bila varian delta varian ini kemudian menemukan kesempatan yang lebih besar untuk menyebar di Indonesia

"Karena bertemunya dua kondisi yang belum maksimal. Baik dari sisi pemerintah maupun dari sisi masyarakatnya yang perlu juga jadi evaluasi bersama," kata Dicky.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi mengatakan varian B1617.2, menjadi varian terbanyak yang muncul di Kudus, Jawa Tengah. Di sana, kasus Covid-19 meledak dan membuat fasilitas kesehatan di Kudus nyaris lumpuh.

"Kalau pada satu daerah ada pola penyebaran yang sangat cepat seperti di Kudus, itu virus yang beredar banyak yang merupakan varian baru," kata Nadia saat dihubungi Tempo, Ahad, 13 Juni 2021.

Hasil penelitian Whole Genome Sequencing (WGS) dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (UGM) di Kudus menunjukkan, dari 28 dari 34 atau sekitar 82 persen dari sampel yang diuji merupakan varian Delta (B.1.617) dari Covid-19.

Varian delta ini muncul pertama kali di India. Saat India menghadapi lonjakan kasus besar-besaran mulai April 2021. Pemerintah Indonesia bergerak untuk mengantisipasi hal ini. Penumpang dari India yang masuk ke Indonesia harus menjalani isolasi selama 14 hari jika non-reaktif Covid-19. Mereka yang reaktif bakal ditangani secara khusus. Namun di lapangan, pengawasan nyatanya tak berjalan maksimal.

Bahkan terungkap ada seorang pria yang baru pulang dari India berinisial JD berusaha menghindari karantina dengan cara menyuap. Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Yusri Yunus mengatakan JD terbang dari India ke Indonesia pada Ahad, 25 April 2021 pukul 18.45 WIB.

Saat tiba di Indonesia, JD seharusnya menjalani karantina selama 14 hari. Namun, JD justru kongkalikong dengan S dan RW agar lolos dari karantina. RW adalah anak S.

Kepada JD, S mengaku sebagai petugas Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang. "Dia membayar Rp 6,5 juta kepada saudara S," ujar Yusri. Polisi akhirnya menahan ketiganya.

Per Rabu, 23 Juni 2021, penambahan kasus Covid-19 harian di Indonesia kembali meledak dan menembus lebih dari 15 ribu kasus. Total kasusnya juga telah menembus angka 2 juta kasus. Sejumlah fasilitas kesehatan seperti Wisma Atlet selalu penuh. Varian Delta yang menjadi penyumbang ledakan kasus ini memang lebih mudah menular antar manusia.

Baca juga: 97 Persen Lebih Menular, Covid-19 Varian Delta Paling Superior


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT