Antam Genjot Produksi dan Penjualan Emas hingga Nikel
TEMPO.CO | 22/01/2021 04:16
Gedung Aneka Tambang Unit Geomin. Tempo/Arnold Simanjuntak
Gedung Aneka Tambang Unit Geomin. Tempo/Arnold Simanjuntak

TEMPO.CO, Jakarta - Emiten BUMN pertambangan mineral, PT Aneka Tambang Tbk. atau Antam, siap memacu kinerja produksi dan penjualan pada tahun ini seiring dengan kenaikan harga komoditas sebagai upaya mengakselerasi pertumbuhan pendapatan.

SVP Corporate Secretary Aneka Tambang Kunto Hendrapawoko mengatakan bahwa perseroan terus berupaya meningkatkan capaian produksi dan penjualan nikel pada 2021 seiring dengan tren kenaikan harga komoditas itu saat ini.

“Kami optimis, kinerja komoditas bisnis nikel perseroan akan tetap optimal pada 2021 melalui evaluasi yang selektif dengan tetap mengedepankan skala prioritas dalam penyusunan rencana belanja modal,” ujar Kunto kepada Bisnis, Kamis, 21 Januari 2021.

Sejalan dengan itu, emiten berkode saham ANTM itu akan terus mengoptimalkan kinerja operasi dengan pengelolaan biaya tunai produksi feronikel tetap di posisi rendah.

Hingga September 2020, biaya tunai produksi feronikel ANTM berada di posisi US$ 3,34 per pon, turun 15 persen dibandingkan dengan biaya tunai produksi sepanjang 2019 sebesar US$ 3,95 per pon. Hal itu memperkokoh posisi ANTM sebagai salah satu produsen feronikel global berbiaya rendah.

Dengan demikian, ANTM dapat meningkatkan kinerja bisnis inti untuk meningkatkan pendapatan dan daya saing perusahaan.

Sementara itu, ANTM juga optimistis dapat memaksimalkan produksi dan penjualan di bisnis emas pada 2021 seiring dengan harga komoditas safe haven itu yang masih berada di level tinggi.

Upaya ANTM itu akan didukung produk logam mulia perseroan yang masih menjadi merek terkemuka di pasar domestik. Belum lagi, minat pasar domestik terhadap investasi emas dalam setahun terakhir meningkat yang diharapkan tren tersebut dapat terus berlanjut pada 2021.

Oleh karena itu, ANTM berencana terus memperkuat bisnis tersebut melalui inovasi produk dan perluasan pasar.

Adapun, sepanjang 2020 ANTM mencatatkan volume produksi emas unaudited sebesar 1.672 kilogram, sedangkan volume penjualan emas mencapai 21.797 kilogram. Perolehan itu lebih rendah dibandingkan pencapaian 2019, yaitu produksi turun 14,6 persen, sedangkan penjualan turun 35,8 persen.

Kendati demikian, Kunto menjelaskan bahwa kinerja tersebut berhasil diimbangi dengan kenaikan harga emas global yang terjadi sepanjang tahun lalu, sempat menyentuh level rekor tertinggi sepanjang sejarah di posisi US$2.000 per troy ounce.

“Secara kuantitas memang mengalami penurunan dibandingkan dengan 2019, tetapi dari sisi pencatatan laba, komoditas emas pada 2020 memberikan kontribusi yang lebih tinggi dibandingkan dengan 2019,” ujar Kunto.

Di bisnis nikel, ANTM mencatatkan produksi feronikel unaudited 25.970 TNi pada 2020, sedangkan penjualan feronikel sebesar 26.163 ton nikel dalam feronikel (TNi).

Capaian produksi feronikel itu berhasil membuat ANTM kembali mencatatkan rekor capaian tertinggi produksi untuk komoditas itu. Namun, volume penjualan feronikel terkoreksi tipis 0,7 persen.

Untuk produksi bijih nikel, Antam mencatatkan volume produksi unaudited mencapai 4,76 juta wet metric ton (wmt dengan tingkat penjualan unaudited mencapai 3,30 juta wmt. Pada segmen bauksit, Antam mencatatkan volume produksi bauksit unaudited 1,55 juta wmt dengan penjualan sebesar 1,23 juta wmt.

BISNIS

Baca juga: Jejak Kasus Ganti Rugi 1,1 Ton Emas yang Menyeret Antam


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT