KRL Yogyakarta - Solo Diharapkan Dapat Menarik Minat Wisatawan
TEMPO.CO | 21/01/2021 03:55
Pekerja menutup stupa menggunakan terpaulin di kompleks Candi Borobudur, Magelang, Jateng, Rabu, 11 November 2020. Hingga kini, Gunung Merapi masish berstatus siaga. ANTARA/Anis Efizudin
Pekerja menutup stupa menggunakan terpaulin di kompleks Candi Borobudur, Magelang, Jateng, Rabu, 11 November 2020. Hingga kini, Gunung Merapi masish berstatus siaga. ANTARA/Anis Efizudin

TEMPO.CO, Jakarta – Pengelola wisata prioritas kawasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah mengharapkan lonjakan jumlah kunjungan wisata dari pengoperasian kereta rel listrik (KRL) Yogyakarta – Solo. Calon pengganti Prambanan Ekspress itu masih menjalani tahap uji coba penumpang, namun ditargetkan beroperasi secara komersial mulai tahun ini.  

Direktur Utama Badan Otorita Borobudur, Indah Juanita, mengatakan modernisasi angkutan bisa merangsang lebih banyak pengunjung ke wilayahnya yang merupakan satu dari lima kawasan strategis pariwisata nasional (KSPN) prioritas negara saat ini.

Pelancong, menurut dia, cenderung memilih transportasi massal yang waktu tempuhnya terukur, terutama kereta api, untuk wisata jalur darat. “Karena waktu datang dan waktu berangkatnya rapi,” ucapnya kepada Tempo, Rabu 20 Januari 2021.  

Proyek KRL pertama di luar Jabodetabek itu melintasi sebelas stasiun dalam satu rangkaian perjalanan, sementara Prameks sebelumnya hanya singgah di tujuh stasiun. “Kami memang mengharapkan rute yang bisa menjelajah seluruh wilayah, sehingga banyak destinasi wisata yang tersentuh,” kata Indah.

Menurut dia, standar kebersihan fasilitas penunjang, seperti toilet di kereta dan stasiun, turut menentukan minat pengguna KRL nantinya. Meski belum bisa merincikan volume kunjungan di KSPN Borobudur, dia mengatakan otorita wisata masih berfokus pada pasar domestik pada tahun ini. Adapun akses pelancong asing ke Indonesia masih ditutup pemerintah sejak kuartal II tahun lalu.    

Direktur Industri dan Kelembagaan Pariwisata BO Borobudur, Bisma Jatmika, membenarkan manajemennya sedang memantapkan rencana pemulihan bisnis tahun ini. Sebagian besar kegiatan diupayakan sesuai dengan standar kesehatan dan kebersihan (Cleanliness, Health, Safety and Environment Sustainability/CHSE).

Karena pandemi, BO Borobudur sebelumnya harus merombak rencana dan target pengembangan berbagai fitur wisata di lahan seluas 309 hektare, meliputi Yogyakarta, Solo, dan Semarang.

“Anggaran kami pada 2021 akan terfokus pada pembangunan zona, dukungan event dan adaptasi kebiasaan baru, serta upscale produk kreatif sampai ke channel pemasarannya,” tutur Bisma, tanpa merincikan angka pendanaannya.

Direktur Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan Zulfikri, mengatakan bahwa pengembangan KRL koridor Yogyakarta – Solo sudah sesuai hasil studi kelayakan yang dikerjakan sejak 2011. Dengan jumlah penduduk yang nyaris menyundul 10 juta orang, potensi penumpang sepur di rute tersebut pada 2021 berkisar 5,92 orang. Jumlah itu diproyeksi tumbuh hingga 29,3 juta orang 2035.

“KRL mendukung konektivitas KSPN Borobudur dan mendorong pemulihan ekonomi setelah terdampak pandemi,” katanya. “Secara teknis, Yogyakarta-Solo ini jalur ganda jadi lebih mudah dan efisien pembangunannya.”

Berbagai kabupaten dan kota di DI Yogyakarta dan Jawa Tengah pun ikut menerima hibah pariwisata, sebesar total Rp 3,3 triliun, yang sudah dicairkan pemerintah selama beberapa bulan terakhir. Merujuk data Kementerian Pariwisata, DI Yogyakarta dikucuri hibah Rp 102,5 miliar atau 3,1 persen dari total alokasi nasional, sementara  Jawa Tengah mendapat Rp 82 miliar atau 2,5 persennya.

Pengamat Angkutan dari Universitas Katolik Soegijapranata sekaligus Ketua Bidang Advokasi Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Djoko Setijowarno, memperkirakan waktu tempuh KRL Yogyakarta – Solo sekitar 72 menit. Menurut dia, durasi ini lebih cepat 30 menit daripada waktu tempuh bus atau mobil probadi.

Djoko mengusulkan KRL itu diperpanjang hingga Kutoarjo, Bandara Internasional Yogyakarta di Kabupaten Kulon Progo, Bandara Adi Sumarmo Solo, serta ke Sragen. Sehingga integrasi pelayanan transportasi semakin baik.

"Jadi tidak hanya di Jabodetabek, saya harap daerah lainya seperti Surabaya – Mojokerto, Bandung –Rancaekek, dan Semarang – Weleri juga membangun hal serupa," ujarnya.

BACA: Kemenhub Ungkap Alasan Pembangunan KRL Jogja-Solo Jadi Prioritas

FRANSISCA CHRISTY ROSANA | YOHANES PASKALIS


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT