Menjelang Pelantikan Joe Biden, Harga Minyak Menguat 2,1 ke USD 55,9 per Barel
TEMPO.CO | 20/01/2021 08:45
Ilustrasi Harga Minyak Mentah. REUTERS/Dado Ruvic
Ilustrasi Harga Minyak Mentah. REUTERS/Dado Ruvic

TEMPO.CO, JakartaHarga minyak dunia pada akhir perdagangan Selasa atau Rabu pagi WIB naik seiring dengan pasar saham AS. Kenaikan harga komoditas tersebut terjadi menjelang pelantikan Joe Biden sebagai presiden Amerika Serikat.

Harga minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Maret menguat US$ 1,15 atau 2,1 persen. Dengan begitu, harga emas hitam ini bertahan di level US$ 55,9 per barel.

Adapun minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Februari naik 62 sen atau 1,2 persen, menjadi ditutup di US$ 52,98 per barel. Kontrak berjangka WTI Februari bulan depan berakhir pada Rabu waktu AS.

Pasar minyak diliputi optimisme akan ada lebih banyak dana stimulus dari pemerintahan baru AS yang pada akhirnya akan mengangkat pertumbuhan ekonomi global.

Indeks-indeks utama Wall Street pun menguat setelah pendapatan positif dari bank-bank besar AS dan komentar dari calon Menteri Keuangan AS Janet Yellen menjelang pelantikan Biden pada Rabu waktu setempat.

Sebelumnya Yellen mendesak anggota parlemen untuk mendorong paket bantuan virus corona berikutnya. Ia menyebutkan bahwa manfaat paket tersebut lebih besar daripada biaya beban utang yang lebih tinggi.

Meski para ekonom tidak selalu setuju, menurut Yellen, harus ada konsensus saat ini. "Tanpa tindakan lebih lanjut, kami mengambil risiko resesi yang lebih lama dan lebih menyakitkan sekarang - dan luka jangka panjang ekonomi nanti," ujarnya pada sidang pengesahan yang diadakan secara virtual oleh Komite Keuangan Senat.

Dengan suku bunga terendah dalam sejarah, Yellen mendesak anggota parlemen untuk mendukung paket bantuan Covid-19 yang digulirkan pemerintah. “Saat kita mendekati awal era pemerintahan Biden di AS, pelaku pasar sekarang memiliki harapan mereka untuk dampak positif yang cepat pada pasar yang berasal dari paket stimulus yang dijanjikan (US$ 1,9 triliun),” kata kepala pasar minyak Rystad Energy, Bjornar Tonhaugen.

Harga minyak juga terdorong oleh melemahnya kurs dolar AS. Kemarin indeks dolar yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, turun 0,26 persen menjadi 90,5100 pada akhir perdagangan Selasa. Secara historis, harga minyak berbanding terbalik dengan harga dolar AS.

Investor juga optimistis dengan permintaan di Cina, importir minyak mentah utama dunia, setelah data menunjukkan produksi kilang-kilang meningkat tiga persen ke rekor tertinggi pada tahun lalu.

Adapun Halliburton Co memprediksi pemulihan dalam industri minyak dan gas global dari kuartal kedua setelah penyedia jasa-jasa ladang minyak tersebut mengalahkan perkiraan laba. Hal ini karena ada pemotongan biaya dan kenaikan moderat dalam aktivitas menyusul penurunan tahun lalu.

Sementara itu Sekretaris jenderal OPEC sangat yakin pasar minyak akan pulih tahun ini dari penurunan permintaan yang disebabkan oleh pandemi virus corona. Harga minyak mentah naik meskipun Badan Energi Internasional (IEA) memangkas prospek permintaan minyak pada 2021 tetapi menunjukkan pemulihan pada paruh kedua tahun ini menjadi rata-rata tahunan 96,6 juta barel per hari.

ANTARA

Baca: Arab Saudi Janji Pangkas Produksi, Harga Minyak Naik Pecahkan Rekor 11 Bulan


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT