Kerugian Akibat Gempa Mamuju dan Majene Diperkirakan Mencapai Rp 90 Miliar
TEMPO.CO | 17/01/2021 21:18
Pengungsi korban gempa antre untuk mendapatkan bantuan logistik dari TNI AD di Stadion Manakarra, Mamuju, Sulawesi Barat, Ahad, 17 Januari 2021. ANTARA/Sigid Kurniawan
Pengungsi korban gempa antre untuk mendapatkan bantuan logistik dari TNI AD di Stadion Manakarra, Mamuju, Sulawesi Barat, Ahad, 17 Januari 2021. ANTARA/Sigid Kurniawan

TEMPO.CO, Jakarta - PT Reasuransi Maipark Indonesia memproyeksikan rentang kerugian akibat rangkaian gempa Mamuju dan Majene di Sulawesi Barat mencapai Rp 49 miliar–Rp 90 miliar, sedangkan total eksposur industri asuransi umum di wilayah terdampak mencapai Rp 925,7 miliar.

Proyeksi kerugian itu diperoleh berdasarkan hasil awal simulasi Maipark Catastrophe Modelling (MCM) terhadap kejadian gempa di Kabupaten Majene, Sulawesi Barat, Jumat, 15 Januari 2020. Permodelan dilakukan di wilayah-wilayah yang mengalami intensitas guncangan kuat, khususnya Majene sebagai episenter gempa dengan nilai Modified Mercalli Intensity (skala MMI) VII atau maksimum.

Rentang kerugian akibat gempa itu diperkirakan mencapai Rp 49 miliar–Rp 90 miliar. Namun, nilai kerugian bisa menjadi lebih besar jika memperhitungkan bahaya lainnya, ditambah dengan adanya susulan gempa di wilayah Kabupaten Mamuju pada 16 Januari 2021.

"Kerugian ini hanya berdasarkan simulasi kerugian akibat guncangan gempa saja, tanpa memperhitungkan bahaya sekunder seperti tsunami dan likuifaksi," tulis Direktur Utama Maipark Ahmad Fauzie Darwis dalam pernyataan publik terkait gempa Majene yang diperoleh Bisnis pada Minggu, 17 Januari 2021.

Selain kerugian, gempa menciptakan eksposur bagi industri asuransi umum atas penutupan-penutupan di wilayah terdampak. Maipark mencatat bahwa 13 kabupaten yang terimbas gempa Majene, tapi lima kabupaten mencatatkan skala MMI yang kuat, dalam rentang V–VII.

Maipark menjabarkan bahwa total eksposur industri asuransi di wilayah terdampak mencapai Rp 925,7 miliar. Sebanyak 89,7 persen dari eksposur itu atau Rp 830,8 miliar berasal dari Mamuju, dengan 146 risiko yang terproteksi asuransi.

Sementara itu, Mamuju sebagai wilayah paling terdampak di Sulawesi Barat mencatatkan eksposur Rp 9,9 miliar dari 11 risiko. Lalu, eksposur di Kabupaten Polewali Mandar mencapai Rp 66,8 miliar dari 48 risiko, yang terdampak gempa dengan skala VI MMI.

Kabupaten Mamasa mencatatkan skala V MMI, tapi eksposur risikonya mencapai Rp18,04 miliar dari 13 risiko. Catatan eksposur risiko dari gempa Majene dan Mamuju itu akan diperbaharui secara berkala setiap dua pekan selama tiga bulan ke depan untuk mengakomodir perubahan parameter gempa.

Maipark pun mencatat bahwa eksposur risiko di Mamuju terhadap bangunan-bangunan mencapai Rp 8,66 miliar. Sementara itu, eksposur risiko mesin-mesin dan peralatan mencapai Rp 0,39 miliar, persediaan barang-barang Rp 0,41 miliar, serta eksposur lainnya mencapai Rp 0,44 miliar.

Eksposur risiko paling besar terjadi kepada sektor perumahan dan properti yang mencapai Rp 7,14 miliar. Maipark tidak mencatat adanya eksposur di sektor industri, tapi sektor perdagangan mengalami eksposur risiko Rp 2,77 miliar.

Korban meninggal akibat gempa berkekuatan magnitudo 6,2 di Sulawesi Barat bertambah menjadi 73 orang. Kepala Pusat Data dan Informasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Raditya Jati saat konferensi pers penanganan bencana di sejumlah daerah menyebutkan bahwa korban tersebar di dua kabupaten.

“Total 73 orang meninggal dunia. Nanti akan kami update lagi,” katanya melalui siaran virtual, Minggu.

Korban tersebar di dua kabupaten yaitu Majene dan Mamuju. Daerah pertama melaporkan korban meninggal 9 orang dan di Mamuju korban meninggal menyentuh 64 orang.

Selain itu, terdapat 554 korban luka di Kabupaten Majene dengan detail 64 orang luka berat, 215 orang luka sedang dan 275 orang luka ringan.

Sebanyak 27.850 orang dilaporkan mengungsi di 25 titik pengungsian yang tersebar di Desa Kota Tinggi, Desa Lombong, Desa Kayu Angin, Desa Petabean, Desa Deking, Desa Mekata, Desa Kabiraan, Desa Lakkading, Desa Lembang, serta Desa Limbua.

BISNIS

Baca juga: BNPB Catat 136 Bencana Alam Terjadi Sejak Awal Tahun Hingga 16 Januari 2021


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT