Bali Berencana Ekspor Umbi Porang 5.000 Ton ke Cina Tahun Ini
TEMPO.CO | 06/01/2021 08:46
Petani tanaman umbi porang di Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan. (Antaranews Kalsel/Istimewa)
Petani tanaman umbi porang di Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan. (Antaranews Kalsel/Istimewa)

TEMPO.CO, Denpasar - Bali berencana mengekspor umbi porang sebesar 5.000 ton ke Cina pada tahun ini. Ekspor ini merupakan komoditas baru yang dijajaki Bali untuk diperdagangkan ke luar negeri.

Kepala Bidang Produksi Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Bali I Wayan Sunarta mengatakan nota kesepahaman terkait rencana ekspor tersebut telah dilakukan dengan Cina. Hanya saja, kepastian ekspor porang dalam bentuk chip kering tersebut masih menyesuaikan dengan ketersediaan barang.

Pasalnya, sejumlah pengusaha porang di Jawa juga mencari bahan baku umbi tersebut ke Bali. Jawa pun juga melakukan ekspor umbi porang dalam bentuk tepung hingga keripik.

"Tantangannya sekarang terkait dengan ketersediaan produk, karena pengepul dari Jawa juga berburu produk ke Bali," katanya kepada Bisnis, Selasa, 5 Januari 2021.

Sunarta menjelaskan hingga saat ini belum ada data resmi mengenai volume produksi umbi porang di Bali. Saat ini, penghasil terbesar dipastikan berada di Jembrana.

Pemerintah Provinsi Bali juga belum bisa memastikan potensi nilai ekspor dari komoditas tersebut. Saat ini harga porang di tingkat petani adalah senilai Rp 10 juta per ton.

"Tanaman porang jadi komoditas baru untuk diekspor tahun ini. Kalau ada barangnya tahun ini, kami sudah MoU eksportir 5.000 ton ke Cina," katanya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), secara kumulatif nilai ekspor barang Bali periode Januari-November 2020 tercatat US$ 414,38 juta, turun 24,08 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Dari lima besar negara tujuan ekspor Bali, nilai ekspor ke Taiwan tercatat meningkat paling tinggi pada November 2020 dibandingkan dengan bulan lalu, yakni 52,60 persen. Peningkatan ini disebabkan terutama karena naiknya ekspor produk ikan dan udang.

PORANG
Porang atau Amorphophallus oncophyllus akhir-akhir ini menjadi tren sejak Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo melepas ekspor komoditas itu sebanyak 60 ton atau setara US$ 1,2 miliar ke Cina.

Selain Cina, porang diminati pasar di sembilan negara lainnya, seperti Jepang, Vietnam, Thailand, Hong Kong, Malaysia, Korea Selatan, Selandia, Italia, dan Pakistan.

Porang, seperti halnya umbi-umbian lain, mengandung karbohidrat, lemak, protein, mineral, vitamin, dan serat pangan. Karbohidrat merupakan komponen penting pada umbi porang yang terdiri atas pati, glukomannan, serat kasar dan gula reduksi.

Kandungan glukomannan yang relatif tinggi merupakan ciri umbi porang. Glukomannan dapat dimanfaatkan pada berbagai industri pangan, antara lain untuk produk makanan seperti konnyaku, shirataki (berbentuk mi), sebagai bahan campuran/tambahan pada berbagai produk kue, roti, es krim, permen, jeli, selai, dan bahan pengental pada produk sirup dan sari buah.

Glukomannan juga dimanfaatkan oleh industri kimia dan farmasi antara lain bahan pengisi dan pengikat tablet, bahan pelapis (coating dan edible film), bahan perekat (lem, cat tembok), pelapis kedap air, penguat tenunan dalam industri tekstil, media pertumbuhan mikrobia, dan bahan pembuatan kertas yang tipis, lemas, dan tahan air.

BISNIS

Baca juga: Inovasi Mahasiswa Sasar Keripik Umbi Porang, Potensi Lonjakkan Harga dari Petani


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT