Dapat Pendanaan Seri A dari BRI Ventures, Brodo Akan Gunakan untuk 2 Hal
TEMPO.CO | 14/12/2020 18:33
M Yukka Harlanda, CEO Brodo Footwear. TEMPO/Nurdiansah
M Yukka Harlanda, CEO Brodo Footwear. TEMPO/Nurdiansah

TEMPO.CO, Jakarta - CEO Brodo Yukka Harlanda menanggapi soal investasi pendanaan Seri A dari dana Ventura Sembrani Nusantara kelolaan BRI Ventures kepada startup merek sepatu lokal tersebut. Yukka mengungkapkan sebuah kehormatan bagi Brodo bisa bergabung menjadi bagian dari keluarga BRI Ventures dan GDP Venture.

"Mencari partner yang satu visi dan misi tidaklah mudah, Sejak hari pertama kami saling bertemu, ibarat jodoh, tidak ada sekalipun keraguan atas potensi brand lokal asli Indonesia untuk bisa eksis dan tumbuh di pasar internasional," katanya dalam keterangannya, Senin, 14 Desember 2020.

Yukka berharap ini bisa menjadi momentum kebangkitan untuk brand UMKM lokal, terutama di momen penuh tantangan seperti sekarang. Brodo percaya bahwa di balik krisis akan ada kesempatan.

Brodo akan menggunakan dana ini untuk dua hal utama. Pertama, berinvestasi pada inovasi produk dan rantai pasok di industri sepatu yang ditopang oleh para pelaku Industri Kecil dan Menengah Indonesia.

Kedua, sesuai dengan komitmen Brodo terhadap ekosistem brand lokal, pihaknya akan meluncurkan servis dan tools untuk membantu para brand lokal lainnya untuk bisa tumbuh berkembang lebih cepat lagi.

"Tidak terlalu banyak yang perlu dirayakan, sekarang waktunya kembali ke meja kerja, meja gambar, dan meja jahit, karena perjalanan kami baru saja dimulai," katanya.

CEO BRI Ventures Nicko Widjaja menjelaskan bahwa pihaknya ingin mendukung usaha Brodo dalam membangun brand yang kuat dengan dibantu oleh kemampuan yang sangat mumpuni di bidang pemasaran digital.

"Pemahaman Brodo akan segmen yang mereka layani serta ambisi mereka untuk mendukung UMKM lainnya naik kelas bersama lewat utilisasi platform digital BDD menjadi sesuatu yang kami sangat apresiasi," kata Nicko.

BDD yang telah dibangun Brodo sudah menjadi cloud marketing platform bagi brand lokal di antaranya seperti Eiger, Cotton Ink, Kick Avenue, Rata.id, Never Too Lavish, dan banyak lagi.

"Saya sendiri melihatnya [BDD] sebagai komponen yang terpenting dalam bisnis Brodo ke depannya, seperti AWS yang telah menjadi cloud computing platform untuk para startup yang juga merupakan bagian dari Amazon," lanjutnya.

Ketua Pengelola Investasi Sembrani Nusantara Markus Rahardja mengungkap investasi kepada Brodo sesuai dengan fokus pada sektor ritel yang mengedepankan pendekatan dengan kearifan lokal yang memanfaatkan kanal-kanal digital secara optimal.

"Sektor ritel di Indonesia sendiri merupakan pasar yang sangat dinamis. Untuk memenangkan pasar yang daya belinya sedang meningkat ini, persaingan tidak hanya terjadi antar merek namun juga dengan para pemasok barang palsu. Pada tahun 2014, contohnya, kerugian yang dialami negara sebagai akibat dari perdagangan barang palsu mencapai USD 4 miliar," ujarnya.

Oleh sebab itu, seringkali ketersediaan barang palsu menjadi alternatif bagi segmen konsumen yang sadar merek namun belum dapat membeli produk dengan merek internasional karena harganya yang relatif lebih mahal.

"Para pendiri Brodo menyadari hal ini dan berharap munculnya merek-merek lokal dengan kualitas yang tidak kalah baik dapat menjadi solusi bagi konsumen. Selain itu, konsumen generasi milenial dan generasi Z juga sudah sangat savvy dan tidak hanya memedulikan brand apa yang mereka pakai, tetapi juga prinsip dan idealisme apa yang diusung oleh brand tersebut dan customer experience seperti apa yang mereka dapat saat berinteraksi dengan brand," tambahnya.

Markus mengungkap ronde pendanaan ini juga diikuti oleh GDP Venture, perusahaan modal ventura asal Indonesia. GDP Venture sendiri merupakan investor yang sudah lama berinvestasi di ranah konsumen, media, dan entertainment dengan portofolio seperti Blibli, Tiket.com, KASKUS, Endeus, 88rising, dan lainnya.

Didirikan pada tahun 2010, Brodo memulai perjalanannya pada zaman di mana masih ada stigma yang membuat konsumen memiliki persepsi bahwa kualitas sepatu merek internasional selalu jauh lebih bagus daripada sepatu bermerek lokal.

Padahal, para pendiri Brodo yakin pengrajin lokal pun bisa membuat sepatu dengan kualitas yang sama. Sayangnya, belum ada merek yang bisa mewakili aspirasi konsumen.

Yukka Harlanda dan Putera Dwi Karunia kemudian mencoba peruntungan mereka dengan menjual sepatu berbahan dasar kulit.

Satu dekade berlalu, saat ini Brodo sudah merambah ke model sepatu lain dengan bahan dasar kanvas dan berkolaborasi dengan seniman-seniman muda lokal untuk meluncurkan sepatu-sepatu edisi terbatas.

Selain itu, Brodo juga menempatkan diri sebagai pelopor brand khusus pria dengan pendekatan pemasaran yang relevan dengan konsumen.

BISNIS

Baca juga: Alasan BRI Ventures Suntikkan Pendanaan Seri A ke Startup Sepatu Lokal Brodo


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT