Pasca Covid, Luhut: Permintaan Minyak Diprediksi Tidak Akan Setinggi Sebelumnya
TEMPO.CO | 02/12/2020 13:31
Melansir situs KPK pada Rabu 22 Juli 2020, Menko Maritim dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan terakhir kali melaporkan harta kekayaannya pada 1 Mei 2020. Dilihat dari data LHKPN, Luhut memiliki harta kekayaaan mencapai Rp 677.4 miliar. TEMPO/M Taufan Reng
Melansir situs KPK pada Rabu 22 Juli 2020, Menko Maritim dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan terakhir kali melaporkan harta kekayaannya pada 1 Mei 2020. Dilihat dari data LHKPN, Luhut memiliki harta kekayaaan mencapai Rp 677.4 miliar. TEMPO/M Taufan Rengganis

TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan berujar banyak lembaga yang memprediksi permintaan minyak pasca masa pandemi Covid-19 tidak akan setinggi sebelumnya.

"Bahkan sebelum Covid-19 harga minyak telah menurun karena kemajuan teknologi dalam produksi shale oil," ujar Luhut dalam acara 2020 International Convention on Indonesia Upstream Oil and Gas, Rabu, 2 November 2020.

Permintaan juga turun karena pertumbuhan rendah dari negara pengimpor. Adanya pandemi Covid-19 mengamplifikasi kondisi tersebut terhadap permintaan global. "Karena tertekan maka banyak lembaga yang memprediksi permintaan minyak tidak akan setinggi sebelumnya."

Sejak tahun 1975, Luhut mengatakan proporsi batu bara dan minyak bumi terus mengalami penurunan dan diperkirakan energi terbarukan akan memainkan peran utama di masa depan. Meski demikian, ia berujar industri migas harus berkembang. Kilang terpadu dan kompleks petrokimia menjadi salah satu solusinya.

"Teknologi akan memungkinkan konfigurasi untuk mengoptimalkan produksi bahan kimia seperti pada industri petrokimia di Hengli dan Xinjiang. Saudi Aramco juga sedang mengerjakan teknologi yang lebih maju," ujarnya. Industri petrokimia akan menyediakan bahan untuk berbagai produk seperti plastik, film, serat, mainan, suku cadang otomotif, wadah makanan, ban dan bahkan farmasi.

Pertamina pun, ujar Luhut, menargetkan menjadi perusahaan petrokimia terbesar di Indonesia pada tahun 2030. Produknya akan berkisar dari produk turunan bervolume besar, produk turunan dengan pengembalian tinggi, aromatik, dan bahan kimia khusus, termasuk produk farmasi.

"Hal ini akan mendukung visi Indonesia untuk memiliki otonomi yang lebih luas di bidang bahan aktif farmasi," kata dia.

Baca: Menko Luhut Targetkan UU Cipta Kerja Dijalankan Februari 2021

CAESAR AKBAR


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT