Inflasi November 0,28 Persen, Sri Mulyani: Sangat Rendah dalam 6 Tahun Terakhir
TEMPO.CO | 01/12/2020 20:14
Menkeu Sri Mulyani memberikan keterangan pers terkait laporan APBN 2019 di Jakarta, Selasa 7 Januari 2020. Menkeu menyatakan realisasi APBN 2019 masih terarah dan terkendali meskipun terjadi defisit sebesar Rp353 triliun atau sebesar 2,20 persen terhadap
Menkeu Sri Mulyani memberikan keterangan pers terkait laporan APBN 2019 di Jakarta, Selasa 7 Januari 2020. Menkeu menyatakan realisasi APBN 2019 masih terarah dan terkendali meskipun terjadi defisit sebesar Rp353 triliun atau sebesar 2,20 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Tempo/Tony Hartawan

TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan inflasi masih relatif rendah pada November 2020 karena permintaan memang melemah. Menurut dia, permintaan melemah akibat adanya pandemi Covid-19.

"Outlook 2020 inflasi ada di 1,5 persen. Ini sangat rendah dalam 6 tahun terakhir," kata dia dalam konferensi pers virtual, Selasa, 1 Desember 2020.

Menurut dia, meski inflasi rendah membuat biaya pengeluaran lebih rendah, hal itu harus tetap diwaspadai. Sebab, sisi permintaan juga rendah dan perlu diperkuat.

Badan Pusat Statistik mencatat lajuĀ inflasiĀ pada November 2020 sebesar 0,28 persen. Dengan demikian, inflasi tahun kalender pada Januari hingga November 2020 tercatat 1,23 persen dan inflasi tahunan 1,59 persen.

"Survei di 90 kota. 83 kota mengalami inflasi dan tujuh kota mengalami deflasi," kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Setianto dalam konferensi video, Selasa, 1 Desember 2020.

Inflasi terjadi di Tual sebesar 1,15 persen dan infasi terendah terjadi di Bima sebesar 0,01 persen. Sedangkan untuk deflasi tertinggi terjadi di Kendari -0,22 persen dan terendah terjadi Meulaboh dan Palopo -0,01 persen.

Sri Mulyani juga mengatakan perekonomian Indonesia telah melewati titik terendah. Saat ini ekonomi Indonesia secara rata-rata mengalami pembalikan ke arah positif kecuali impor yang mengalami kontraksi dalam.

"Ini dikaitkan industri manufaktur yang butuhan bahan baku yang diimpor. Pertumbuhan ekonoi kita turning point, di kuartal II sudah kita lewati, namun tidak berarti bahwa kita harus terlena, masih perlu pembalikan awal dan perlu dijaga," kata dia.

HENDARTYO HANGGI


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT