Kasus di Lembantongoa, Setara Desak Satgas Tinombala Optimalkan Sisa Masa Tugas
TEMPO.CO | 28/11/2020 16:48
Halili - Direktur Riset Setara Institute
Halili - Direktur Riset Setara Institute

TEMPO.CO, Jakarta - Setara Institute mendesak Satgas Tinombala mengoptimalkan sisa masa tugasnya dalam memburu belasan anggota Mujahidin Indonesia Timur (MIT) Poso yang masih berkeliaran.

MIT Poso diduga pelaku pembunuhan 1 keluarga dan pembakaran rumah ibadah Bala Keselamatan di Dusun Lewonu, Desa Lembantongoa, Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah, pada Jumat, 27 November 2020.

"Komplotan teroris Poso tersebut tidak boleh diremehkan, apalagi dianggap lemah," kata Direktur Riset Setara Institute Halili dalam keterangannya, Sabtu, 28 November 2020.

Halili mengatakan, pasca tewasnya Santoso dan tertangkapnya Basri pada 2016, Ali Kalora telah mengambil alih kepemimpinan MIT Poso dan hingga kini tak tersentuh aparat.

Kasus yang terjadi di Desa Lembantongoa, kata Halili, diduga dilakukan sisa-sisa kelompok Santoso yang belum berhasil diringkus Satgas Tinombala. Kabupaten Sigi sendiri secara geografis berada di antara Kabupaten Poso dan Kabupaten Parigi Moutong yang selama ini dianggap sebagai teritori MIT Poso.

Halili juga mendesak pemerintah, khususnya aparat keamanan untuk tidak lengah dalam mengantisipasi konsolidasi dan bangkitnya sel-sel tidur terorisme dan ekstremisme kekerasan.

"Peningkatan kekecewaan publik belakangan ini atas kinerja pemerintahan di berbagai bidang dapat dimanfaatkan oleh sel-sel tidur dan jaringan terorisme dan ekstremisme kekerasan untuk mendapatkan momentum dan melakukan konsolidasi," kata dia.

Selain itu, terorisme dan ekstremisme-kekerasan tidak mengenal agama. Sehingga, Setara Institute mendorong tokoh lintas agama untuk sama-sama mengutuk kekerasan yang digunakan oleh kelompok tertentu atas nama agama.

Setara Institute juga mengimbau agar kasus terorisme dan ekstremisme-kekerasan, seperti yang terjadi di Sulawesi Tengah, tidak dimanfaatkan sebagai isu sosial-politik apapun oleh kelompok manapun, untuk memantik segregasi sosial-politik atau sosial-keagamaan di tengah-tengah masyarakat.

FRISKI RIANA


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT