Sebut Rizieq Shihab Isi Kekosongan Pemimpin Islam, Ini Penjelasan Jusuf Kalla
TEMPO.CO | 23/11/2020 09:33
Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI) Jusuf Kalla (ketiga kiri) didampingi Ketua ICMI Jimly Asshiddiqie (kanan), beserta pengurus DMI dan pengurus Masjid Al Azhar meninjau penyemprotan disinfektan di Masjid Al Azhar Jakarta Selatan, Rabu, 3 Juni 2020. M
Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI) Jusuf Kalla (ketiga kiri) didampingi Ketua ICMI Jimly Asshiddiqie (kanan), beserta pengurus DMI dan pengurus Masjid Al Azhar meninjau penyemprotan disinfektan di Masjid Al Azhar Jakarta Selatan, Rabu, 3 Juni 2020. Masjid ini rencananya akan dibuka untuk salat Jumat berjemaah pekan ini. ANTARA/Nova Wahyudi

TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Presiden ke-10 dan 12 Jusuf Kalla atau JK ikut menyoroti peristiwa kepulangan pemimpin Front Pembela Islam Rizieq Shihab dan kerumunan massa pendukungnya di tengah pandemi Covid-19.

Menurut JK, kembalinya Rizieq yang disambut ingar-bingar ribuan pendukungnya itu patut mendapat perhatian. Ia mengatakan Rizieq telah mengisi kekosongan pemimpin Islam akibat absennya figur yang menyuarakan amar ma'ruf nahi munkar. "Di situ Habib Rizieq masuk dengan jumlah pengikut yang luar biasa besar," kata JK dalam Majalah Tempo edisi 23-29 November 2020.

JK menjelaskan, partai-partai Islam yang wasathiyah, moderat, diharapkan mengusung amar ma'ruf nahi munkar. Tetapi semuanya pragmatis saja. NU dan Muhammadiyah, kata JK, tentu sibuk dengan dakwah dan upaya sosial. Sehingga, upaya mengisi kepemimpinan pun berkurang dan di situ lah sosok Rizieq hadir.

"Kita jangan hanya asyik berdakwah, tapi juga menyuarakan amar ma'ruf nahi munkar. Ini karena kita asyik berpolitik, akhirnya ada kekosongan yang diisi oleh Habib Rizieq," ujarnya.

Menurut JK, tidak ada yang salah dalam kondisi tersebut. Namun, ia berharap organisasi-organisasi Islam perlu tetap bergerak dalam bidang amar ma'ruf nahi munkar. Selain itu mengkonsolidasi organisasi-organisasi lain supaya memiliki figur alternatif.

Kepulangan Rizieq yang disambut ribuan pendukungnya, JK menilai tidak perlu dikhawatirkan selama bergerak dalam damai. Hanya, kata JK, salahnya karena itu terjadi saat pandemi dan melanggar aturan.

Ia lantas membandingkan dengan aksi 411 dan 212 (Aksi Bela Islam II dan III) yang sama-sama diikuti massa. "Itu kan massa yang sama. Jauh lebih besar massa aksi 212 dibanding kemarin. Tapi, masalahnya, yang dilanggar adalah protokol kesehatan dan UU Kekarantinaan Kesehatan," katanya.

FRISKI RIANA


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT