Machfud Arifin Dekati Anak Eks Sekjen PDIP, Djarot: Bagian Politik Pecah Belah
TEMPO.CO | 19/11/2020 15:50
Pasangan calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Surabaya Machfud Arifin (kedua kiri) dan Mujiaman (ketiga kanan) memperlihatkan poster dengan nomor urut usai rapat pleno terbuka pengundian nomor urut pasangan calon wali kota dan wakil wali kota di Surabaya,
Pasangan calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Surabaya Machfud Arifin (kedua kiri) dan Mujiaman (ketiga kanan) memperlihatkan poster dengan nomor urut usai rapat pleno terbuka pengundian nomor urut pasangan calon wali kota dan wakil wali kota di Surabaya, Jawa Timur, Kamis 24 September 2020. ANTARA FOTO/Moch Asim

TEMPO.CO, Jakarta - Ketua DPP PDIP Djarot Saiful Hidayat menyebut Machfud Arifin menggunakan strategi memecah belah di Pilkada Kota Surabaya 2020. Menurut Djarot, Machfud memakai strategi ini lantaran tak memahami manajemen pemerintahan yang baik.

Machfud Arifin dinilai memecah belah lantaran mendekati anak mantan Sekretaris Jenderal PDIP Sutjipto, Jagad Hari Seno. Ia juga merupakan kakak dari Wisnu Sakti Buana, Wakil Wali Kota Surabaya sekaligus kader PDIP yang urung dicalonkan menjadi calon wali kota Surabaya di Pilkada 2020 ini.

"MA telah melakukan politik devide et impera ala kolonialisme Belanda," kata Djarot dalam keterangan tertulis, Kamis, 19 November 2020.

Djarot mengatakan politik pemecah belah selama masa kolonial selalu dilawan oleh seluruh anak bangsa, termasuk Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, dan Partai Nasional Indonesia.

Menurut Djarot, terasa kurang elok jika tim Machfud Arifin menjalankan politik adu domba. "Termasuk apa yang dilakukan oleh Mat Mochtar. Sebab itu cara kolonial yang ditentang arek-arek Surabaya," ujar mantan Wali Kota Blitar ini.

Djarot mengatakan Dewan Pimpinan Pusat PDIP telah memecat Mat Mochtar lantaran membelot mendukung Machfud Arifin dan Mujiaman. Padahal, PDIP mengusung Eri Cahyadi - Armuji sebagai calon wali kota-wakil wali kota Surabaya.

Djarot mengatakan ketua umumnya, Megawati Soekarnoputri sudah berkontemplasi sebelum mengambil keputusan mencalonkan Eri-Armuji. Bahkan kata Djarot, Megawati tak mau menerima tamu, termasuk Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini.

"Dengan demikian keputusan benar-benar jernih, tulus, untuk masa depan Kota Surabaya. Eri diputuskan sebagai calon karena kepemimpinannya, sosok muda, berprestasi di Surabaya," kata dia.

Sebagai seorang insinyur, Djarot melanjutkan, Eri juga dianggap mampu membuat perencanaan dan desain kemajuan bagi Surabaya, Indonesia, dan dunia. Djarot pun meyakini Eri-Armuji semakin kuat saat berhadapan dengan Machfud-Mujiaman yang mengantongi mayoritas dukungan dan logistik besar.

Eri, kata dia, akan semakin kuat justru karena gemblengan dan kepungan. Ia menyebut apa yang terjadi justru membuktikan masyarakat Surabaya memiliki keberanian untuk memilih pemimpin muda, jujur, berpengalaman, dan visioner.

"Jadi ketika Surabaya dikepung, seperti halnya ketika Sekutu mengepung Surabaya, perlawanan rakyat untuk mendukung pemimpin yang baik akan semakin kuat," ucap Djarot.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT