Wakil Ketua MPR: Hari Pahlawan adalah Buah dari Resolusi Jihad KH. Hasyim Asy'ari
TEMPO.CO | 11/11/2020 11:31
Wakil Ketua MPR RI, H. M. Hidayat Nur Wahid MA, secara daring Temu Tokoh Nasional, di  Pondok Pesantren Takhfidzul Al Quran (PPTQ) Ibnu Abbas Klaten Jawa Tengah, Selasa (10/10/2020).
Wakil Ketua MPR RI, H. M. Hidayat Nur Wahid MA, secara daring Temu Tokoh Nasional, di Pondok Pesantren Takhfidzul Al Quran (PPTQ) Ibnu Abbas Klaten Jawa Tengah, Selasa (10/10/2020).

INFO NASIONAL-- Dihadapan masyarakat Kabupaten Klaten Jawa Tengah, Wakil Ketua MPR RI, Hidayat Nur Wahid atau HNW, menyampaikan selamat datang kepada Habib Rizieq Sihab yang telah kembali ke Indonesia.

"Kepulangan Habib Rizieq bertepatan dengan Hari Pahlawan merupakan kabar yang membahagiakan. Karena pada hari Pahlawan, seluruh bangsa Indonesia diajak untuk mengingat kembali jasa para pahlawan," kata HNW secara daring dalam acara Temu Tokoh Nasional di Pondok Pesantren Takhfidzul Al Quran (PPTQ) Ibnu Abbas Klaten Jawa Tengah, Selasa (10/11).

Selain Hidayat Nur Wahid, acara tersebut juga menghadirkan dua narasumber lain yaitu, Dr. Muhammad Mu'inudinillah, MA (Direktur PPTQ Ibnu Abbas, Klaten). Serta H. Hadi Santoso, ST MSi (Wakil Ketua Komisi D DPRD Propinsi Jawa Tengah).

HNW menceritakan, hari pahlawan yang diperingati setiap 10 November lahir berkat Resolusi Jihad yang disampaikan KH. Hasyim Asy’ari. Untuk menghadapi ancaman Sekutu dan tentara Belanda yang hendak menjajah kembali, pendiri NU itu menyampaikan fatwa bahwa membela bangsa dan negara hukumnya adalah wajib, terutama bagi warga yang berada di Surabaya dan sekitarnya. Selanjutnya, mereka yang gugur dalam peperangan, berarti mati syahid. Sedangkan mereka yang berkhianat boleh diperangi.

“Berkat fatwa itulah arek-arek Surabaya berjuang mati-matian melawan Sekutu yang diboncengi tentara Belanda. Padahal, tentara Sekutu menggunakan senjata modern, tetapi arek-arek Surabaya yang tergabung dalam beberapa barisan, seperti Laskar Santri dan Laskar Hisbullah tidak mudah dikalahkan, hingga peperangan itu berlangsung hampir satu bulan lamanya,” kata Hidayat menambahkan.

Sejarah tentang Hari Pahlawan pada khususnya dan perjuangan kemerdekaan Indonesia pada umumnya, menurut Hidayat harus diketahui oleh seluruh rakyat Indonesia. Karena memahami sejarah dengan benar bisa meminimalisir potensi bertambahnya oknum masyarakat yang mengalami Islamophobia maupun Indonesiaphobia.

“Saya tidak setuju dengan pendapat beberapa pihak yang mengusulkan penghapusan mata pelajaran sejarah dan agama. Pelajaran sejarah penting untuk mengajarkan masa lalu kepada generasi millenial. Agar mereka tahu perjuangan masa lalu para pahlawan termasuk ulama. Sedangkan pelajaran agama penting untuk memberikan pegangan, cara beragama yang benar sesuai kaidah masing-masing agama,” kata Hidayat.(*)


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT