Kadin Prediksi Kebijakan Dagang Joe Biden Relatif Sama dengan Donald Trump
TEMPO.CO | 08/11/2020 15:31
Ekspresi Joe Biden saat menyampaikan sambutan di hadapan pendukungnya usai menyaksikan hasil Pemilu AS yang diumumkan media, di Wilmington, Delaware, AS, 7 November 2020. Berdasarkan perhitungan CNN, Biden mampu menang dari lawannya, Donald Trump, berkat
Ekspresi Joe Biden saat menyampaikan sambutan di hadapan pendukungnya usai menyaksikan hasil Pemilu AS yang diumumkan media, di Wilmington, Delaware, AS, 7 November 2020. Berdasarkan perhitungan CNN, Biden mampu menang dari lawannya, Donald Trump, berkat 20 suara elektoral dari Pennsylvania. Andrew Harnik/Pool via REUTERS

TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Bidang Hubungan Internasional Shinta Widjaja Kamdani memperkirakan kebijakan perdagangan yang diusung Presiden terpilih Amerika Serikat Joe Biden tidak akan jauh berbeda dengan inkumben, Donald Trump.

"Pada prinsipnya kebijakan Biden akan relatif sama dengan Trump. Hanya saja konsep yang diusung Biden lebih terstruktur, bukan sporadis seperti Trump," ujar Shinta kepada Tempo, Ahad, 8 November 2020.

Shinta mengatakan konsep perdagangan Biden akan mengarah kepada kebijakan fair trade. Menurut dia, capres dari Partai Demokrat ini akan lebih terbuka untuk menciptakan kompromi dagang yang mengarah kepada konsep perdagangan adil dengan negara-negara yang saat ini sedang sangat ditekan oleh kebijakan Trump.

Nantinya, kata Shinta, Biden diperkirakan tidak akan pro perdagangan bebas sepenuhnya, melainkan akan mengupayakan keseimbangan antara proteksi pasar Amerika Serikat dari impor, khususnya dari Cina dan negara lain yang dianggap melakukan persaingan dagang tidak sehat.

"Karena itu, Biden kemungkinan besar tidak serta merta akan menghentikan trade war, review ataupun penyelidikan-penyelidikan dagang terkait aktivitas perdagangan AS dengan negara-negara lain," ujar Shinta.

Bahkan, dalam rencana ekonominya yang berjudul Made in All of America, kata Shinta, Biden menunjukkan itikad politik untuk memproteksi pasar Amerika untuk menciptakan lapangan kerja. Biden, ujar dia, menyatakan tidak sungkan untuk mengenakan tarif atau perisai dagang pada mitra dagang yang dianggap merugikan AS.

"Khususnya isu terkait persaingan dagang yang tidak sehat yang bisa meliputi isu dumping & subsidi perdagangan, hingga persaingan usaha yang tidak sehat karena peran BUMN di negara pesaing, Cina," tutur Shinta.

Ditambah lagi, menurut dia, pemerintahan Demokrat cenderung lebih formal dan nyaman dengan prinsip multilateral. Di satu sisi, kebijakan ini menciptakan kepastian yang baik dalam relasi dagang dan investasi. Namun, sisi negatifnya, penekanan pada perdagangan adil yang menyebabkan peningkatan kasus-kasus pemulihan perdagangan yang dilakukan negeri Abang Sam secara bilateral maupun multilateral terhadap Indonesia.

"Kami tidak memproyeksikan banyak perubahan, karena semua tergantung pada daya tarik iklim usaha dan investasi Indonesia, khususnya karena konflik AS-Cina dan negara-negara cenderung terus dipertahankan oleh Biden karena kebutuhan ekonomi internalnya sendiri, khususnya untuk job creation," tutur dia.

CAESAR AKBAR

Baca juga: Joe Biden Dinyatakan Menang Pilpres AS, IHSG Diprediksi Rawan Aksi Ambil Untung


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT