Joe Biden Menangi Pemilu AS, Pengamat: Indonesia Harus Lebih Transparan Soal HAM
TEMPO.CO | 08/11/2020 11:17
Joe Biden Menangi Pemilu AS, Pengamat: Indonesia Harus Lebih Transparan Soal HAM
Joe Biden Menangi Pemilu AS, Pengamat: Indonesia Harus Lebih Transparan Soal HAM

TEMPO.CO, Jakarta - Pengamat hubungan internasional dari Universitas Indonesia, Hikmahanto Juwana, menyarankan pemerintah bisa beradaptasi setelah Joe Biden terpilih sebagai Presiden Amerika Serikat. Sebab, kata dia, ada perbedaan gaya kepemimpinan antara Donald Trump dari Partai Republik dan Biden dari Partai Demokrat.

la mengatakan, ketika Biden memimpin, Indonesia harus lebih transparan terhadap isu hak asasi manusia (HAM) di sini. Presiden dari Demokrat, kata dia, biasanya cenderung memperhatikan kondisi penegakan HAM di negara lain.

"Partai Demokrat itu ideologinya adalah HAM, melindungi minoritas, mengenakan pajak yang tinggi bagi kelas menengah ke atas," kata Hikmahanto saat dihubungi pada Ahad, 8 November 2020.

Dia menjelaskan, hasil pemilu Amerika Serikat sesungguhnya tidak akan berdampak serius ke Indonesia. Sebab, bagi Indonesia, siapa pun presiden yang terpilih, harus tetap bisa bekerja sama dengan negara tersebut.

Joe Biden memenangi Pemilu AS dengan perolehan suara elektoral sebanyak 273. Seorang kandidat hanya butuh 270 suara elektoral untuk bisa menjadi Presiden Amerika. Hingga tadi malam, Donald Trump tercatat baru mengumpulkan 214 suara elektoral.

Peneliti bidang perkembangan politik internasional dari Lembaga llmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Siswanto, berpendapat bahwa gaya kepemimpinan Trump dan Biden memang berbeda. Trump dengan kebijakan America First dan isolasionismenya, sedangkan Biden diperkirakan lebih luwes dalam berhubungan dengan negara lain.

Menurut Siswanto, Demokrat biasanya memiliki perhatian lebih serius terhadap isu-isu hak asasi manusia. Berbeda dengan Republik yang berkonsentrasi pada isu keamanan dan militer. Namun, di luar perbedaan itu, Siswanto menganggap pemerintahan Amerika cenderung pragmatis.

“Lihat saja saat Soeharto berkuasa, sangat diktator, tapi Amerika Serikat tetap saja mau jadi mitra kita," kata Siswanto.

Menurut Siswanto, siapa pun Presiden Amerika Serikat yang terpilih, mereka akan tetap menjadikan Indonesia sebagai mitra strategis. Hanya, akan ada perbedaan pendekatan.

 


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT