PLN Resmi Luncurkan Konversi PLTD ke EBT
TEMPO.CO | 03/11/2020 10:52
Konferensi pers PLN bertajuk "Green And Suistainable" PLN dukung energi ramah lingkungan dan Luncurkan Program Konversi PLTD ke EBT disiarkan melalui aplikasi zoom meeting, Senin (02/11).
Konferensi pers PLN bertajuk "Green And Suistainable" PLN dukung energi ramah lingkungan dan Luncurkan Program Konversi PLTD ke EBT disiarkan melalui aplikasi zoom meeting, Senin (02/11).

INFO NASIONAL-- Saat ini PLN dihadapkan oleh tantangan perubahan iklim, pemanasan global, perkembangan teknologi dan pandemik Covid-19. Untuk itu PLN berkomitmen untuk meningkatkan kualitas layanan dengan mengembangkan model bisnis yang berkelanjutan.

“Konversi PLTD merupakan bagian dari upaya PLN mengeksplorasi sumber energi ramah lingkungan dan menggali potensi energi setempat, serta memperhitungkan potensi pengembangan dan konsumsi listrik di masa mendatang di wilayah tersebut,” kata Direktur Utama PLN, Zulkifli Zaini dalam Webinar bertajuk” PLN Go Green dan Sustainable” pada Senin, 2 November 2020.

Zulkifli sekaligus meresmikan peluncuran Virtual Program Konversi Diesel ke EBT dan Layanan Renewable Energy Certificate (REC). Untuk tahap pertama, PLN akan melakukan konversi terhadap PLTD di 200 lokasi dengan kapasitas 225 Megawatt (MW). Konversi tahap awal ini dilakukan dengan memilih mesin PLTD yang telah berusia lebih dari 15 tahun dengan mempertimbangkan kajian studi yang telah dilakukan oleh PLN. Sedangkan pada tahap kedua dan ketiga masing-masing 500 MW dan 1.300 MW.

Metode pelaksanaannya melalui analisis geospasial, mulai dari pemetaan titik-titik sebaran PLTD eksisting, pemetaan potensi sumber energi terbarukan di wilayah tersebut, yang dikombinasikan dengan potensi pertumbuhan ekonomi regional di titik yang telah diidentifikasi.

Pada kesempatan yang sama, Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM RI, Ego Syahrial memberikan apresiasi atas berbagai program PLN untuk meningkatkan pemanfaatan energi ramah lingkungan. “Saya berterima kasih dan memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada PLN yang selalu mendukung pemerintah mewujudkan kemandirian dan ketahanan energi di Indonesia dengan terus berpartisipasi meningkatkan penggunaan EBT,” katanya.

Sebagai catatan, hingga akhir 2019, PLN telah mengoperasikan 7,68 gigawatt (GW). pembangkit EBT. Ditargetkan pada 2025 nanti PLN dapat mengoperasikan lebih dari 15GW pembangkit EBT.
Sejalan dengan itu, PLN juga mengembangkan layanan sertifikasi energi baru terbarukan (EBT) atau Renewable Energy Certificate (REC).

Sertifikasi ini mendorong pelanggan PLN beralih menggunakan energi hijau yang ramah lingkungan. REC mewakili atribut terbarukan dari setiap Megawatt hour listrik yang diproduksi oleh pembangkit EBT. Layanan PLN ini didukung sistem pelacakan elektronik yang hanya dapat diklaim sekali dan telah memenuhi standar internasional.

Dari sudut pandang operasional bisnis PLN, langkah ini meningkatkan efisiensi perusahaan, sekaligus mengurangi belanja negara di sektor BBBM yang sebagian besar diimpor. Ini juga selaras dengan program Pemerintah untuk menghadirkan listrik merata sampai ke pelosok tanah air. “Program konversi PLTD ke EBT menjamin listrik tersedia 24 jam, dan membuka peluang pembangunan ekonomi baru dalam skala lokal, dalam industri wisata, perikanan, peternakan dan agrobisnis,” ujar Zulkifli.

Di sisi lain, Sertifikasi EBT akan meningkatkan daya saing bagi pelaku usaha dan investor asing di Indonesia, karena berkurangnya biaya operasional melalui penghematan energi. Sertifikasi EBT hadir sebagai partisipasi suatu perusahaan menjaga ketahanan lingkungan di tengah perubahan iklim dan pemanasan global yang mulai terasa dampaknya.

Lebih lanjut, PLN berkeinginan untuk menjadikan sertifikasi EBT sebagai gerakan nasional. Harapannya adalah layanan ini dapat dijangkau oleh seluruh jenis pelanggan, termasuk sektor rumah tangga dan bahkan pelanggan non-PLN.(*)


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT