Beragam Strategi Bangun Karakter Anak Bangsa
TEMPO.CO | 29/10/2020 18:06
Komunitas bernama Time (Tolitoli Melakukan) untuk menggiatkan literasi kepada anak-anak di pelosok dan di pulau-pulau.
Komunitas bernama Time (Tolitoli Melakukan) untuk menggiatkan literasi kepada anak-anak di pelosok dan di pulau-pulau.

INFO NASIONAL-Sumpah Pemuda bulan Oktober 1928 menjadi momen penting karena berbagai golongan berikrar satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa. Maka dari itu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) menjadikan momen tersebut sebagai tonggak agar kelak bangsa Indonesia memiliki sumber daya manusia (SDM) Indonesia yang unggul, berkompetensi global, dan berperilaku sesuai nilai-nilai Pancasila.

Dalam merealisasikan hal tersebut, guru menjadi garda depan dalam upaya menanamkan nilai-nilai Pancasila. Seperti yang dilakukan oleh guru Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) Indriani Pujianti yang memiliki cara unik dalam menanamkan nilai-nilai Pancasila kepada peserta didik, yakni dengan mendongeng.

Menurutnya, mendongeng merupakan salah satu media yang efektif dalam menyampaikan materi pelajaran, dalam hal ini nilai-nilai Pancasila, dengan cara yang menyenangkan.

“Sebagai sebuah produk budaya, yang memuat kearifan lokal, nilai-nilai, dan menyajikan variasi cara pandang untuk memeroleh solusi dari berbagai masalah, aktivitas mendongeng harus selalu digencarkan,” ujar Indriani yang juga Pendiri Kampung Dongeng Kotabaru Kalimantan Selatan tersebut.

Selain itu, Kemendikbud sendiri di bulan Oktober ini juga menyelenggarakan Bulan Bahasa dan Sastra yang dibuka sejak tanggal 1 Oktober. Menurut Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud Republik Indonesia, Endang Aminudin Aziz, tujuan penyelenggaraan Bulan Bahasa dan Sastra 2020, yakni untuk melestarikan semangat persatuan dan kebhinekaan yang digagas oleh para pemuda pada 1928.

Dalam Bulan Bahasa dan Sastra 2020 kali ini Kemendikbud mengangkat kekayaan budaya daerah di Indonesia. “Dengan begitu akan timbul saling apresiasi dan rasa persatuan,” tutur Aminudin.

Kemendikbud telah melakukan berbagai terobosan untuk meningkatkan literasi bangsa Indonesia dan penanaman nilai-nilai Pancasila. Kemendikbud akan mengadakan bahan bacaan baik dari karya lokal maupun global. Sedikitnya ada 750 karya sastra daerah  dan 2.000 karya sastra dunia berkategori terlaris untuk bacaan taman kanak-kanak sampai sekolah menengah yang akan diterjemahkan ke bahasa Indonesia, dan disebar ke seluruh sekolah-sekolah di Indonesia.

Rencananya ini akan direalisasikan dalam 4 tahun ke depan. Tujuannya, untuk memelihara dan menumbuhkan minat berbahasa dan menulis dalam bahasa daerah.

Di tengah pandemi ini, Kemendikbud juga telah melakukan beberapa strategi agar generasi muda semakin menghayati nilai-nilai Pancasila, yakni dengan mengadakan program Belajar dari rumah.

Lewat program itu, Kemendikbud meminta para orang tua yang saat ini mengambil alih peran guru, menanamkan nilai-nilai karakter yang sekiranya dapat dilakukan secara realistik dan konkret di rumah.

“Upaya-upaya tersebut penting dilakukan guna menjadikan siswa beriman kepada Tuhan, mandiri, bernalar kritis, kebhinekaan global, menerapkan gotong royong, dan kreatif. Dengan demikian, tantangan seperti perubahan teknologi, sosio, dan lingkungan bisa mereka hadapi,” ujar Kepala Pusat Penguatan Karakter (Puspeka) Kemendikbud Hendarman.

Untuk mendukung terwujudnya Profil Pelajar Pancasila khususnya kepada generasi muda, Puspeka juga mengembangkan konten kampanye melalui berbagai media termasuk media sosial seperti Instagram @cerdasberkarakter.kemdikbudri, Facebook dan Youtube Cerdas Berkarakter Kemdikbud RI, laman https://cerdasberkarakter.kemdikbud.go.id, dan tiktok @cerdasberkarakter. (*)


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT