KLHK: Populasi Komodo Meningkat dalam 5 Tahun Terakhir, Sekarang 3.022 Ekor
TEMPO.CO | 27/10/2020 20:45
Menparekraf Wishnutama saat berkunjung ke Pulau Komodo. Dok. Kemenparekraf
Menparekraf Wishnutama saat berkunjung ke Pulau Komodo. Dok. Kemenparekraf

TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Wiratno menyebut populasi komodo di Taman Nasional Komodo (TNK) Labuan Bajo cenderung meningkat. Total komodo pada 2018 sebanyak 2.897 ekor dan pada 2019 bertambah menjadi 3.022 ekor.

“Populasi biawak komodo di Lembah Loh Buaya selama 17 tahun terakhir relatif stabil dengan kecenderungan sedikit meningkat di lima tahun terakhir,” ujar Wiratno dalam keterangan tertulis, Selasa, 27 Oktober 2020.

Populasi komodo saat ini terkonsentrasi di dua pulau, yaitu Pulau Komodo dan Pulau Rinca. Sedangkan sebagian kecil menyebar di pulau sekitarnya. Sebanyak tujuh ekor berada di Pulau Padar, 69 ekor di Gili Motang, dan 91 ekor di Nusa Kode.

Wiratno mengklaim, jika komodo dilindungi secara serius dan konsisten, aktivitas wisata dengan kondisi saat ini tidak bakal membahayakan satwa.

Pemerintah sebelumnya menutup Resort Loh Buaya di Pulau Rinca mulai 26 Oktober 2020 hingga 30 Juni 2021. Penutupan dilakukan untuk mempercepat proyek penataan sarana dan prasarana wisata alam. Meski demikian, penutupan akan dievaluasi setiap dua pekan sekali.

Proyek tersebut dijalankan oleh Kementerian PUPR dan penggarapannya telah mencapai 30 persen. Pembangunan saat ini meliputi penataan sisi tengah dan memasuki tahap pembongkaran bangunan eksisting, pembuangan puing, pembersihan pile cap, serta pembuatan tiang pancang. Pembangunan kawasan wisata ditargetkan rampung pada Juni 2021.

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia atau Walhi mendesak pemerintah menyetop proyek pembangunan kawasan pariwisata di TNK Labuan Bajo. Proyek ini dikhawatirkan mengancam keutuhan ekosistem satwa endemis di Pulau Flores.

“Walhi mengecam segala bentuk pembangunan yang menghilangkan keaslian habitat komodo,” tutur Direktur Walhi NTT Umbu Wulang Tanaamahu Paranggi. Wulang meminta pemerintah mengembalikan TNK sebagai kawasan konservasi.

Ia memandang, saat ini pembangunan TNK terlampau masif dan tidak sesuai dengan seperti pelestarian komodo sebagai hewan purba.

Dia menduga pembangunan pariwisata premium di wilayah tersebut akan berdampak buruk bagi keberlangsungan hidup satwa. Sebab, TNK yang merupakan kawasan konservasi perlahan mulai disulap menjadi lokus pengembangan wisata premium.

“Langkah pemerintah saat ini telah membuktikan kekhawatiran bahwa pembangunan konservasi Pulau Rinca (salah satu pulau di TNK) akan lebih didominasi kepentingan pariwisata,” katanya.

Walhi juga mengecam masuknya kendaraan berat di dalam habitat komodo, yakni Pulau Rinca, yang fotonya beredar belakangan. Sebagai kawasan konservasi, kata Wulang, Pulau Rinca semestinya memerlukan pembangunan infrastruktur seperti yang direncanakan pemerintah.

Baca: NTT Jelaskan Konsep Pembangunan di Pulau Rinca Komodo, Bukan Jurassic Park

FRANCISCA CHRISTY ROSANA


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT