Mahasiswa Demo Omnibus Law, Moeldoko: Kalau Sudah Paham Tak akan Turun ke Jalan
TEMPO.CO | 22/10/2020 07:06
Polisi membuat blokade saat buruh memblokir akses jalan menuju gerbang tol Cileunyi, Kabupaten Bandung, Selasa, 20 Oktober 2020. Buruh dan mahasiswa kembali menggelar aksi unjuk rasa serentak di Indonesia menentang UU Cipta Kerja sekaligus aksi memperinga
Polisi membuat blokade saat buruh memblokir akses jalan menuju gerbang tol Cileunyi, Kabupaten Bandung, Selasa, 20 Oktober 2020. Buruh dan mahasiswa kembali menggelar aksi unjuk rasa serentak di Indonesia menentang UU Cipta Kerja sekaligus aksi memperingati setahun pemerintahan Jokowi. TEMPO/Prima Mulia

TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Staf Kepresidenan, Moeldoko menanggapi desakan Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) yang terus menuntut Presiden Joko Widodo mengeluarkan peraturan pemerintah pengganti undang-undang (Perpu) untuk membatalkan omnibus law UU Cipta Kerja.

Para mahasiswa bahkan memberi Jokowi tenggat waktu sebelum Peringatan Hari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober mendatang. 

Moeldoko menyebut aksi demonstrasi mahasiswa yang menolak aturan itu sebagai paradoks. Ia mengatakan mahasiswa tidak akan turun ke jalan jika sudah diberi pemahaman tentang substansi undang-undang sapu jagat itu.

"Kalau mereka dipahamkan, maka dia pasti tidak akan turun ke jalan, karena pemerintah sungguh memikirkan nasib mereka," ujar Moeldoko di kantornya, Rabu, 21 Oktober 2020.

Menurut Moeldoko, UU Cipta Kerja menyederhanakan birokrasi dan regulasi sebagai prasyarat mempermudah investasi. Tujuannya, kata Moeldoko, untuk menarik para investor masuk ke Indonesia sehingga akan terbuka lapangan kerja yang luas. "Lalu, siapa yang menikmati? Tentu anak-anak saya yang saat ini ada di jalanan," ujar Purnawirawan TNI ini.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT