Cai Changpan 8 bulan Gali Sel, Bunuh Diri di Persembunyian
TEMPO.CO | 18/10/2020 06:45
Beberapa polisi berpakaian 'preman' berjaga di sekitar ex pabrik pengolahan limbah ban, tempat ditemukannya Cai Changpan yang tewas dengan cara gantung diri di Cikidung RT 02/09, Koleang, Jasinga, Kabupaten Bogor, Sabtu 17 Oktober 2020. Dok. Istimewa
Beberapa polisi berpakaian 'preman' berjaga di sekitar ex pabrik pengolahan limbah ban, tempat ditemukannya Cai Changpan yang tewas dengan cara gantung diri di Cikidung RT 02/09, Koleang, Jasinga, Kabupaten Bogor, Sabtu 17 Oktober 2020. Dok. Istimewa

TEMPO.CO, Jakarta - Setelah lebih dari satu bulan buron, Cai Changpan, terhukum mati perkara narkotika, ditemukan polisi tewas di sebuah pabrik pembakaran ban di dalam Hutan Jasinga, Bogor, Jawa Barat pada Sabtu, 17 Oktober 2020 pukul 10.30 WIB. Warga negara Cina yang telah 15 tahun berada di Indonesia itu diduga bunuh diri.

"Kami temukan meninggal dunia gantung diri. Saat ini lagi kami ke bawa Rumah Sakit Polri Kramatjati untuk diautopsi," ujar Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Yusri Yunus, Sabtu, 17 Oktober 2020.

Polisi mengaku menerima informasi keberadaan Cai dari seorang Satpam pabrik. Satpam itu sering bermalam di pabrik dan ia mengetahui bahwa Cai juga kerap menginap di sana.

Cai memaksa Satpam itu agar tidak membocorkan keberadaannya kepada orang lain. "Dia (satpam) juga sempat diancam (Cai), gak boleh lapor ke siapa-siapa," ujar Yusri.

Sebelum ditemukan tewas di pabrik itu, Cai menghuni Lembaga Pemasyarakatan atau Lapas Kelas 1 Kota Tangerang. Untuk bisa lolos dari penjara, Cai menggali lubang di selnya hingga tembus ke gorong-gorong luar Lapas selama delapan bulan. Dia akhirnya kabur dari Lapas pada Senin dini hari, 14 September 2020 pukul 02.30.

Ceruk buatan Cai panjangnya 30 meter dengan diameter dua meter. Untuk menggali 'lubang kebebasan', dia menggunakan alat-alat seperti sekop, besi, obeng, dan pahat. Peralatan ini diduga didapatnya dari proyek pembangunan dapur penjara.

Cai juga menggunakan pompa air yang dibelinya atas bantuan petugas Lapas. Pompa itu dipakai untuk menguras air dalam galian. Dua petugas Lapas yang sama-sama berinisial S telah ditetapkan sebagai tersangka. Keduanya adalah Wakil Komandan Regu 2 dan pegawai kesehatan di Lapas.

Selama proses penggalian, Cai menyimpan tanah-tanah hasil kerukan di dalam plastik. Kantong-kantong berisi tanah itu dibuang dan disamarkan bersama tumpukan sampah lainnya. Menghindari kecurigaan petugas Lapas, Cai hanya membuang dua kantong plastik per harinya, rutin selama delapan bulan.

"Jika dihitung (volume tanahnya) bak dump truck bisa hampir 2 dump truck," ujar Yusri, Jumat, 2 Oktober 2020.

Agar galiannya tidak ditemukan petugas, Cai menutupi mulut lubang dengan karung. Lubang itu berada persis di bawah kasurnya dalam sel. Dia hanya mengali pada malam hari, yakni pukul 22.00 - 05.00. Keterangan ini didapatkan petugas dari rekan satu selnya.

"Kalau dilihat kondisi (aman dari penjaga), tempat tidur dia geser baru dilubangi. Sesudah gali tanah, dia tutup lagi pakai tempat tidur dua tingkat," kata Yusri.

Petugas Lapas Kelas 1 Tangerang baru menyadari Cai Changpan kabur selang sebelas jam kemudian. Dalam tempo itu, petugas jaga berganti tiga kali.

Polisi mendapatkan informasi bahwa Cai sempat membeli rokok di warung sekitar Lapas itu, sebelum berangkat ke kawasan Tenjo, Bogor, Jawa Barat.

Sesampainya di Tenjo, Cai sempat menemui istrinya. Cai kemudian bersembunyi dalam hutan yang terletak di kecamatan pemekaran dari Kabupaten Parungpanjang, Bogor itu, hingga akhirnya ditemukan tewas diduga gantung diri.

Yusri mengatakan Cai memiliki kemampuan bertahan hidup di dalam hutan karena pernah mengikuti pelatihan militer di Cina. Sebelum berurusan dengan polisi, Cai juga kerap melakukan perburuan di hutan Tenjo. "Jadi dia hapal hutan itu," kata Yusri, Sabtu, 3 Oktober 2020.

Selama masa persembunyian, Cai Changpan tidak melulu mendekam di hutan. Penduduk Tenjo mengaku pernah melihat lelaki yang disebut-sebut memiliki beberapa istri itu keluar dari rimba untuk membeli makanan.

Kepala Dusun 02, Desa Babakan, Ratim mengatakan, seorang petani singkong di wilayahnya mengaku pernah bertemu Cai pada Kamis, 1 Oktober 2020 pukul 16.00. Namun, petani itu tak tahu Cai seorang buron.

“Saat tahu dari teve itu buronan, dia kaget dan melapor ke RT dan petugas setempat,” kata Ratim saat dikonfirmasi, Senin, 5 Oktober 2020.

Cai bukan pertama kali kabur dari penjara. Terhukum perkara penyelundupan sabu seberat 110 kilogram itu pernah lolos dari Rumah Tahanan Direktorat Tindak Pidana Narkoba Mabes Polri di Cawang, Jakarta Timur pada Januari 2017.

Menurut sumber Tempo di kepolisian, Cai kabur dengan cara membobol tembok kamar mandi penjara pada 2017. Ia melubangi dinding menggunakan sebatang besi sepanjang 30 sentimeter. Kala itu, Bareskrim Polri hanya butuh tiga hari untuk menciduknya kembali. Cai dirungkus di daerah Sukabumi, Jawa Barat. Dia lantas divonis mati oleh Pengadilan Negeri Tangerang.

Setelah pelarian demi pelarian, Cai Changpan meninggal dalam persembunyiannya. Walau sudah ada dugaan gantung diri, kematian Cai masih meninggalkan misteri. Sekretaris Desa Koleang, Jasinga, Bogor, Wawan Setiawan berujar, dirinya mendapat informasi tewasnya Cai dengan cara bunuh diri dari salah seorang stafnya.

"Tadi jam empatan lah, Kaur Desa bilang ada yang gantung diri di sana (eks pabrik ban). Wah yang benar, tanya saya," kata Wawan pasca-penemuan Cai Changpan, Sabtu, 17 Oktober 2020.

Setelah mendapat informasi dari Kaur Desa, Wawan kemudian berniat meneruskan informasi itu kepada Kepolisian Sektor Jasinga. Namun setelah mengecek telepon selulernya, Wawan ternyata sudah menerima pesan dari polisi yang menanyakan perihal Cai tewas gantung diri. Mereka pun janjian ke lokasi sama-sama.

"Sesampainya di sana, sudah ramai, banyak mobil. Mungkin dari Polres Tangerang itu," kata Wawan.

Sesampainya di lokasi eks pabrik pengolahan ban bekas tempat ditemukannya Cai Changpan, sekitar lokasi sudah dibatasi dengan garis polisi dan siapa pun dilarang masuk. Bahkan, menurut Wawan, mayat Cai sudah terbungkus tas mayat dan berada dalam mobil ambulans yang sudah terparkir beserta mobil polisi lainnya. "Ambulansnya sudah di situ, saya coba lihat kan, tapi karena sudah ditutup jadi gak bisa.”

Selain ada kantong mayat yang diduga berisi jasad Cai, polisi juga membawa warga sebagai saksi. Dari pengamatannya, ada tiga orang yang digiring masuk ke mobil berkaca gelap. "Cuma dari orang-orang itu saya kenal satu ya, separuhnya sudah di dalam," ujar Wawan menirukan ucapan polisi saat menggiring para saksi masuk mobil.

M YUSUF MANURUNG | JULNIS FIRMANSYAH | AYU CIPTA | MAHFUZULLOH AL MURTADHO

 


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT