Bos Pertamina Blak-blakan Jelaskan Harga BBM di RI Masih Mahal
TEMPO.CO | 05/10/2020 19:20
Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati (kanan) berbincang dengan Komisaris Utama  Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok (kiri) saat pembukaan Pertamina Energy Forum 2019 di Jakarta, Selasa, 26 November 2019. PT Pertamina (Persero) menggelar Pert
Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati (kanan) berbincang dengan Komisaris Utama Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok (kiri) saat pembukaan Pertamina Energy Forum 2019 di Jakarta, Selasa, 26 November 2019. PT Pertamina (Persero) menggelar Pertamina Energy Forum 2019 yang membahas perkembangan sektor energi dan bisnisnya dengan tema "Driving Factors: What Will Shape The Future of Energy Business". ANTARA

TEMPO.CO, JakartaDirektur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati menyebutkan masih mahalnya harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di Indonesia karena terbatasnya kapasitas pengolahan kilang di dalam negeri. Hal ini disampaikannya saat rapat kerja dengan Komisi VII DPR, Senin, 5 Oktober 2020.

Nicke menjelaskan kemampuan pengolahan minyak mentah oleh Pertamina hanya tiga persen dari pasokan global. Hal itu yang kemudian berpengaruh pula pada supply and demand atau kebutuhan dan permintaan BBM yang pada akhirnya berpengaruh pada harga produk di bagian hilir, salah satunya adalah harga BBM.

Oleh karena itu, Pertamina mengambil sejumlah langkah untuk menekan harga jual BBM. Pertamina sebelumnya menyebutkan akan bekerja sama dengan Singapura agar dapat menyimpan stok BBM di kilang milik Indonesia.

“Kami akan beli BBM jangka panjang dengan Singapura, tapi kami minta stok BBM-nya disimpan di Indonesia,” kata Direktur Logistik dan Infrastruktur Pertamina, Mulyono.

Dengan begitu, menurut Mulyono, secara hitungan itu BBM itu akan masuk menjadi stok nasional, meskipun masih milik Singapura. “Itu hanya disimpan di Indonesia tapi nanti cost-nya akan dibayar oleh supplier (Singapura)."

Lebih jauh, Mulyono menjelaskan lokasi penyimpanan direncanakan nantinya di Tanjung Sekong. Meskipun hanya dititipkan, namun sudah termasuk dalam kontrak pembelian jangka panjang dengan Indonesia atau secara sistem disebut Supplier Held Stock (HSS).

Mulyono menyebutkan dengan HSS, ketahanan stok BBM nasional bisa ditingkatkan karena sudah berada di perairan Indonesia. Selain itu, biaya distribusi dan stok bisa ditekan.

Keuntungan ketiga adalah tidak terdapat biaya modal atau investasi modal di awal proyek. Selanjutnya, mengurangi waktu tunggu selama pengadaan stok dan meningkatkan fleksibilitas penggunaan stok.

“Pada dasarnya selama ini impor BBM kita memang masih dari Singapura, sehingga akan kami jalin kerja sama yang tentunya menguntungkan dari segi efisiensi distribusi,” kata Mulyono.

ANTARA

Baca: Wacana Harga BBM Turun, Pertamina: Nanti Setelah Covid-19 Mereda


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT