AirNav Atur Ketinggian Pesawat Agar Penggunaan Bahan Bakar Lebih Hemat
TEMPO.CO | 28/09/2020 08:31
Calon penumpang pesawat saat melintas di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Kamis, 9 Juli 2020. Ketatnya persyaratan bagi penumpang untuk melakukan perjalanan udara menyebabkan aktivitas penerbangan di bandara tersebut tampak sepi. TEMP
Calon penumpang pesawat saat melintas di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Kamis, 9 Juli 2020. Ketatnya persyaratan bagi penumpang untuk melakukan perjalanan udara menyebabkan aktivitas penerbangan di bandara tersebut tampak sepi. TEMPO / Hilman Fathurrahman W

TEMPO.CO, JakartaAirNav Indonesia mengupayakan penerbangan domestik dapat terbang dengan efisien dengan mengatur ketinggian yang paling sesuai dengan pesawat. Tujuannya agar menghemat penggunaan bahan bakar selama pandemi Covid-19. 

Manajer Hubungan Masyarakat AirNav Indonesia Yohanes Sirait mengatakan saat ini penerbangan domestik lebih bertahan dibandingkan dengan penerbangan internasional dengan tingkat permintaan tinggi untuk transportasi antarpulau.

“Namun, saat ini memang pergerakan yang ada belum sepadat seperti pada masa normal, sehingga supaya penerbangan domestik dapat terbang dengan optimal, AirNav mengatur ketinggian yang paling sesuai dengan pesawat sehingga penggunaan fuel maskapai lebih efisien,” ungkapnya pada Minggu 27 September 2020.

Penerbangan domestik, lanjutnya, masih berjalan pada kisaran 40 persen hingga 50 persen dari pergerakan normal, sedangkan penerbangan internasional dan overflying berada pada kisaran antara 10 persen hingga 20 persen.

Berdasarkan data tersebut, dia menilai penerbangan domestik berpotensi akan lebih cepat pulih dibandingkan dengan internasional. Namun, ini juga harus berbanding lurus dengan penanganan pandemi Covid-19.

Perusahaan navigasi tersebut menyampaikan momentum pandemi juga digunakan untuk membuat langkah inovasi dengan menerapkan UPR (use preferred route) bagi penerbangan internasional.

Selain itu membuat rute berbasis satelit yaitu PBN (performance based navigation) dengan jarak tempuh lebih pendek. Hal ini akan mendukung efisiensi bagi maskapai.

Pada masa pandemi ini, kata Sirait, AirNav Indonesia mengaku tidak menurunkan pelayanan karena aspek navigasi merupakan level keamanan yang harus dijaga. Semua pihak baik dari sisi sumber daya manusia, fasilitas, hingga prosedur pelayanan harus bekerja dengan optimal.

Sementara dari aspek bisnis, lanjutnya, untuk menjamin pelayanan, AirNav Indonesia terus berjalan dengan membuat rencana bisnis yang berkelanjutan.

Menurut Sirait, pelaku industri aviasi sudah menyadari hal itu, sehingga tujuan utama meningkatkan penerbangan domestik telah dilakukan bersama dengan pemerintah. Kementerian Perhubungan dan BUMN telah mendukung seluruh pemangku kepentingan terkait untuk bekerja sama membangun sinergi melaksanakan kampanye penerbangan.

Selain itu, membuat terobosan-terobosan dan melaksanakan protokol kesehatan dengan ketat untuk meyakinkan bahwa penerbangan itu aman.

Kampanye juga dilakukan terkait dengan HEPA (high efficiency particulate air) filter di dalam kabin pesawat, yang membuat sirkulasi udara di kabin pesawat sangat aman dan sehat karena menggunakan filter seperti yang digunakan di ruang ICU (intensive care unit).

“Bahkan bila di ruang ICU, sirkulasi udara diganti tiap 5 menit, di dalam kabin pesawat tiap 3 menit. Dengan sosialisasi dan edukasi ini, diharapkan masyarakat tidak takut untuk terbang, karena aman dan sehat,” kata Sirait.

Baca juga: Juli 2020, AirNav Indonesia: Pergerakan Pesawat Naik Hampir Dua Kali Lipat

 


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT