Dibayangi Isu Global dan Keluarnya Asing, IHSG Pekan Ini Diprediksi Melemah Lagi
TEMPO.CO | 27/09/2020 18:07
Karyawan mengamati layar pergerakan perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis, 10 September 2020.  Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun tajam sebesar lima persen pada level 4.892,87 atau turun 257,49 poin. ANTARA/Reno Esnir
Karyawan mengamati layar pergerakan perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis, 10 September 2020. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun tajam sebesar lima persen pada level 4.892,87 atau turun 257,49 poin. ANTARA/Reno Esnir

TEMPO.CO, Jakarta - Direktur PT Anugerah Mega Investama Hans Kwee memperkirakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bakal bergerak menguat di awal pekan, namun cenderung melemah di tengah sampai akhir pekan. Hal tersebut dipengaruhi berita positif di dalam dan luar negeri.

"IHSG bergerak dengan level support di level 4,820 sampai 4,754 dan resistance di level 4,978 sampai 5,187 dengan kecenderungan melemah dalam sepekan kedepan," ujar Hans dalam keterangan tertulis, Ahad, 27 September 2020.

Isu pertama datang dari pasar keuangan dunia yang membuat sentimen negatif dari perkembangan paket stimulus fiskal untuk mengatasi dampak pandemi Covid-19 di Amerika Serikat.

Dikabarkan Partai Demokrat di Dewan Perwakilan Rakyat AS sedang menyiapkan rencana paket stimulus virus corona senilai US$ 2,2 triliun. Para pelaku pasar berharap paket ini bisa divoting pada pekan depan, lantaran dinilai sangat penting untuk membantu Amerika Serikat keluar dari resesi.

Di tengah peningkatan kasus Covid-19 dan rencana penguncian kembali, tutur Hans, membuat pemulihan ekonomi akan terganggu. Dengan demikian, stimulus fiskal sangat di butuhkan.

"Pejabat Federal Reserve pekan lalu berbicara tentang pentingnya lebih banyak stimulus fiskal karena kebijakan moneter terbatas efektivitasnya dalam memulihkan perekonomian. Pernyataan ini menurunkan kredibilitas the Fed sendiri tetapi mendorong pemerintah dan parlemen segera meloloskan stimulus fiskal baru untuk mengatasi dampak covid 19," ujar dia.

Isu tersebut juga berkaitan dengan data ekonomi Amerika Serikat cenderung bervariasi tetapi menunjukkan tanda-tanda perlambatan pemulihan.

Selanjutnya, Hans mengatakan pasar modal juga menghadapi ketidakpastian politik Amerika Serikat menjelang pemilu di bulan November. Dikabarkan Presiden Donald Trump menolak berkomitmen untuk transfer kekuasaan secara damai jika dia kalah dalam Pilpres. Hal ini membuat sangat mungkin hasil pemilu disengketakan.

"Hal ini memang di bantah Partai Republik tentang penolakan Presiden Donald Trump untuk berkomitmen pada transfer kekuasaan secara damai bila Trump kalah dalam pemilu November. Hal ini telah membuat indeks dolar mengalami penguatan dan memperlemah nilai tukar Rupiah," ujar dia.

Pernyataan Chairman The Fed Chicago Charles Evans mengatakan pelonggaran kuantitatif lebih lanjut mungkin tidak memberikan dorongan tambahan untuk ekonomi AS serta isyarat bahwa The Fed bisa saja menaikkan suku bunga sebelum inflasi mulai mencapai rata-rata 2 persen membuat arus dana balik ke Amerika Serikat. Kondisi itu membuat dolar cenderung naik dan rupiah cenderung melemah.

Berikutnya, para pelaku pasar modal juga diperkirakan terus memperhatikan perkembangan penyebaran Covid-19 di kancah global. Timbul kekhawatiran gelombang kedua covid 19 terjadi di beberapa Negara Eropa telah mendorong beberapa Negara seperti Inggris, Jerman dan Prancis melakukan pembatasan baru.

Rencana lockdown ditambah dukungan fiskal yang lebih sedikit serta likuditas yang berkurang akan membebani kinerja kuartal ke empat berbagai Negara.

Dari dalam negeri, Hans mengatakan sejumlah isu yang mempengaruhi pergerakan saham pekan depan antara lain adalah penanganan Covid-19 yang dinilai masih lemah, serta kasus baru yang masih terus naik. Belum lagi dengan adanya isu revisi Undang-undang Bank Indonesia. Kondisi tersebut membuat dana asing terus keluar dari bursa saham Indonesia.

"Rupiah yang melemah di tambah keluarnya dana asing membuat IHSG sulit menguat signifikan dan cenderung sideways sampai akhir tahun," ujar Hans. "Namun, selain itu kabar vaksin perusahaan Cina yang berhasil menjadi tambahan sentimen positif," kata Hans.

Hans memperkirakan perpanjangan Pembatasan Sosial Berskala Besar di DKI Jakarta hingga Oktober mendatang bakal menjadi sentimen negatif bagi pasar modal di Tanah Air.

"Biarpun PSBB ketat hanya di berlakukan di Ibu kota Jakarta, tetapi Jakarta punya kontribusi besar pada perekonomi Indonesia sehingga berpeluang menekan perekonomian Indonesia," ujar Hans.

Kendati demikian, Hans mengatakan klaim pemerintah DKI Jakarta bahwa penerapan PSBB total jilid II berhasil menekan angka kasus baru Covid-19 sempat mengerek Indeks Harga Saham Gabungan ke zona positif pada Jumat, 25 September 2020.

Pasar modal berhasil ditutup di zona hijau setelah sejak awal pekan tertekan di zona merah di Jumat lalu. Pada penutupan perdagangan akhir pekan ini IHSG ditutup di level 4945,79 alias naik 2,13 persen dari sebelumnya.

Baca juga: Perpanjangan PSBB Jakarta Jilid II Bakal Jadi Sentimen Negatif di Pasar Modal

CAESAR AKBAR


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT