Riset Lifepal: Indeks PMI Manufaktur Indonesia Tertinggi ke-2 di ASEAN
TEMPO.CO | 25/09/2020 20:23
Pialang melintas di depan papan Tampilan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (24/10/2017).Foto Agung Rahmadiansyah/Tempo
Pialang melintas di depan papan Tampilan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (24/10/2017).Foto Agung Rahmadiansyah/Tempo

TEMPO.CO, Jakarta - Lifepal.co.id telah melakukan riset yang membandingkan pemulihan Indeks PMI Manufaktur atau  Purchasing Managers’ Index Indonesia dengan negara-negara lain di kawasan Asia Tenggara. Selain itu juga dilakukan analisis PMI-BI, indikator serupa yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia, mempengaruhi fluktuasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia. 

PMI selama ini dikenal merupakan suatu indikator utama bagi kegiatan perekonomian suatu negara yang dibuat melalui suatu tahapan survei terhadap para purchasing manager di berbagai sektor bisnis yang ada. Angka PMI ini mengindikasikan seberapa optimis pelaku sektor bisnis terhadap kondisi perekonomian ke depan. 

Data PMI didasarkan pada survei bulanan dari perusahaan yang dipilih secara hati-hati. Data ini menyajikan indikasi lanjutan tentang apa yang sedang terjadi pada ekonomi sektor swasta dengan melacak variabel seperti, output, permintaan baru, tingkat stok, ketenagakerjaan, dan harga lintas sektor pabrik, konstruksi, eceran, dan jasa.  

Dalam Purchasing Managers Index, angka yang dimungkinkan keluar berkisar dari angka 0 hingga 100. Jika PMI dirilis dengan angka > 50, maka sektor bisnis tersebut mengalami perkembangan (ekspansi). Semakin tinggi angka indeks PMI maka semakin besar pula perkembangan yang dialami.

Sementara bila PMI dirilis dengan angka = 50, maka sektor bisnis tersebut mengalami stagnasi (tidak ada perkembangan). Adapun jika PMI dirilis dengan angka < 50, maka sektor bisnis tersebut mengalami penurunan (kontraksi).

Dari hasil penelitian Lifepal.co.id diketahui bahwa pandemi Covid-19 dan kebijakan pembatasan sosial hingga lockdown di negara-negara ASEAN mempengaruhi pergerakan Purchasing Managers Index. Terlihat ketika pandemi yang booming di bulan Maret disusul lockdown yang diberlakukan di banyak negara ASEAN hingga PSBB di Indonesia mengakibatkan Purchasing Managers Index mulai turun di bulan Maret.

Tiap negara mencapai PMI terendah pada bulan April. Selepas April, PMI semua negara kembali pulih.

Dari grafik PMI Negara-negara ASEAN diketahui hingga Agustus 2020, Myanmar adalah yang pemulihannya paling tinggi, disusul Indonesia di urutan ke-2. Vietnam sendiri, yang sempat nyaris tak tersentuh Covid-19, akhirnya baru memberlakukan lockdown pada akhir Juli 2020.

Hingga Agustus, PMI Vietnam adalah yang terendah di antara 7 negara ASEAN. Berada di peringkat 2 pada bulan Agustus 2020, Purchasing Managers Index Indonesia berada pada level 50,8 persen yang artinya, jika PMI dirilis dengan angka > 50, maka sektor bisnis tersebut mengalami perkembangan (ekspansi). Pergerakan IHSG Mengikuti Prompt Manufacturing Index. 

Indonesia sendiri juga memiliki indeks serupa yang dinamakan Prompt Manufacturing Index yang disingkat menjadi PMI-BI, lantaran indeks manufaktur ini dikeluarkan oleh Bank Indonesia. Fungsinya pun serupa dengan PMI, PMI-BI memperlihatkan gambaran umum mengenai kondisi Sektor Industri Pengolahan saat ini dan perkiraan triwulan mendatang. PMI-BI merupakan indikator ekonomi yang mencerminkan keyakinan para manajer bisnis di sektor manufaktur.

PMI-BI merupakan indeks komposit yang diperoleh dari lima indeks yaitu volume pesanan barang input, volume produksi (output), ketenagakerjaan, waktu pengiriman dari pemasok, dan inventori. Pembacaan nilai PMI sendiri bisa dikatakan sederhana. Nilai yang dijadikan acuan pada indeks ini adalah 50 persen.

Contohnya jika nilai PMI Indonesia di atas 50, maka dapat dikatakan bahwa sektor manufaktur Indonesia sedang mengalami ekspansi atau pertumbuhan. Sedangkan juga sebaliknya, jika nilai PMI Indonesia di bawah 50, maka dapat dikatakan bahwa sektor manufaktur di Indonesia sedang mengalami kontraksi atau perlambatan.

Cara lain yang bisa dilakukan alah menganalisis keterkaitan antara PMI-BI dengan pergerakan IHSG. Apakah naik-turunnya PMI-BI mempengaruhi fluktuasi IHSG?

Lifepal.co.id mencermati dari grafik pergerakan PMI-BI dan IHSG di atas, terlihat sejak Q1 2010 sampai Q3 2020, bahwa pergerakan IHSG dipengaruhi oleh PMI-BI. Pengaruh itu terlihat mencolok ketika pada Q1 2020 sampai Q3 2020 PMI Indonesia jatuh di bawah 50 persen, yang berarti dapat dikatakan bahwa sektor manufaktur di Indonesia sedang mengalami kontraksi. 

Penurunan PMI ini yang terjadi saat ini dapat mengindikasikan bahwa tingkat permintaan konsumen yang melemah sebagai akibat dari pemberlakuan kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) beberapa daerah termasuk DKI Jakarta.

Faktor lainnya yang menyebabkan lesunya sektor manufaktur dalam negeri adalah kebijakan beberapa perusahaan untuk melakukan PHK terhadap sejumlah karyawan. Banyak implikasi juga yang timbul seperti penutupan pabrik, anjloknya permintaan yang mengakibatkan sektor manufaktur menjadi lesu secara pertumbuhan. 

Nilai PMI Indonesia yang di bawah 50 persen pada Q1 2020 sampai Q3 2020, mendorong penurunan IHSG. Terlihat dari Q4 2019 sampai Q3 2020, terlihat penurunan IHSG sudah mencapai 19,71 persen.

GABRIEL ANIN | RR ARIYANI

Baca: Jokowi: Manufaktur dan Indikator Ekonomi Lain Mulai Membaik


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT