Teror Kelompok Bersenjata, Kapolda Papua: Membuat Maskapai Takut Angkut Personel
TEMPO.CO | 24/09/2020 08:45
Kepala Kepolisian Daerah Papua Inspektur Jenderal Paulus Waterpauw usai rapat dengar pendapat di Gedung Nusantara II DPR-MPR Senayan, Jakarta Selatan pada Rabu, 20 November 2019. TEMPO/Andita Rahma
Kepala Kepolisian Daerah Papua Inspektur Jenderal Paulus Waterpauw usai rapat dengar pendapat di Gedung Nusantara II DPR-MPR Senayan, Jakarta Selatan pada Rabu, 20 November 2019. TEMPO/Andita Rahma

TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Kepolisian Daerah Inspektur Jenderal Paulus Waterpauw mengatakan, aksi teror yang dilakukan kelompok bersenjata dalam beberapa waktu ini berimbas kepada penerbangan.

"Para maskapai ini enggan mengangkut personel TNI-Polri. Tapi di sisi lain, pertimbangan maskapai untuk tidak mengangkut aparat dikarenakan faktor keselamatan, wajar bagi kami," ucap Paulus melalui keterangan tertulis pada Kamis, 24 September 2020.

Selain maraknya aksi teror, menurut Paulus, takutnya para maskapai membawa personel TNI-Polri lantaran beredarnya ancaman dari pihak kelompok bersenjata. Ancaman itu tertuang dalam video berdurasi 1 menit 20 detik dan viral di media sosial pada 19 September 2020.

"Dalam video tersebut Sebby menyebutkan bahwa prajurit dari TNPN OPM tidak segan-segan menembaki pesawat yang mengangkut aparat keamanan," kata Paulus.

Perseteruan terbaru antara kelompok bersenjata dengan Polri-TNI terkait tewasnya pendeta Yeremia Zanambani. Menurut laporan dari pimpinan GKII dan media Papua, pendeta Yeremia diduga ditembak oleh pasukan TNI dalam suatu operasi militer pada Sabtu, 19 September lalu.

Namun, Polda Papua membantah. Paulus menegaskan jika tak ada personel TNI-Polri di daerah tersebut. Kepolisian justru menuding bahwa saat ini kelompok bersenjata sedang mencari momen untuk menarik perhatian di Sidang Umum PBB pada akhir September ini.

Rangkaian kejadian beberapa hari ini adalah sudah direncanakan KKB yang kemudian diputarbalikkan bahwa TNI melakukan penembakan kepada pendeta. "Ini propaganda yang dilakukan mengingat akan digelarnya sidang PBB, dan kami semua paham tentang itu. Jadi beberapa para pihak yang mencoba mendramatisasi kejadian tersebut," ucap Paulus.

ANDITA RAHMA


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT