Cara Berkomunikasi dengan Difabel Tuli Netra, Namanya PTASL
TEMPO.CO | 23/09/2020 05:51
Ilustrasi penderita tuli. (foto: Gettyimages)
Ilustrasi penderita tuli. (foto: Gettyimages)

TEMPO.CO, Jakarta - Kondisi difabel tuli netra atau deaf blind masuk kelompok yang sama dengan penyandang disabilitas netra atau penyandang disabilitas tuli/rungu. Ketiga ragam difabel itu masuk kategori disabilitas sensorik.

Kendati masuk dalam kelompok disabilitas yang sama, cara berkomunikasi dengan difabel tuli netra berbeda dengan penyandang disabilitas netra dan penyandang disabilitas rungu/tuli. Perbedaan cara berkomunikasi ini memotivasi seorang juru bahasa isyarat di Amerika, Christine Dwyer, untuk mengembangkan metode komunikasi bernama Pro Tactile American Sign Language atau PTASL.

"Pro Tactile American Sign Language adalah cara berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat melalui perabaan tangan," ujar Christine Dwyer, pengembang Pro Tactile American Sign Language seperti dikutip dari situs Perkins.

Meskipun nama Pro Tactile American Sign Language menyertakan American Sign Language, penerapannya sama sekali berbeda dengan bahasa isyarat resmi di Amerika Serikat tersebut. Menurut Dwyer, American Sign Language merupakan bahasa isyarat yang penggunaannya lebih visual. Sementara Pro Tactile American Sign Language dibuat untuk memudahkan perabaan sehingga fokus pada gerak tubuh.

Satu abad lalu, Hellen Keller pernah menerapkan cara ini untuk berkomunikasi dengan gurunya Anne Sullivan. Hanya saja saat itu penggunaannya belum efektif lantaran masih menyertakan metode perabaan getar suara melalui leher atau haptic.

Pada Oktober 2018, Pro Tactile American Sign Langauage mulai disosialisasikan penggunaannya di lembaga pendidikan, khususnya yang menerima peserta didik tuli netra. Salah satu keungulan Pro Tactile American Sign Language adalah dapat diterapkan dalam interaksi kelompok. Artinya, penyampaian informasi menggunakan PTSL tidak harus dilakukan per individu.

Pro Tactile American Sign Langauage membantu penyandang tuli netra dalam berkomunikasi melalui perabaan gerak tangan atau tubuh penerjemahnya. "Sesuatu yang dikhawatirkan difabel tuli netra adalah ketidakpastian informasi yang mereka terima. Tapi dengan menyentuh tangan, informasi tersebut bisa lebih jelas," kata Dwyer.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT