Selain Mertua Syahrini, Ini Petinggi Perusahaan yang Sempat Lepas Sahamnya
TEMPO.CO | 07/09/2020 05:31
Pengunjung melintas di depan papan tampilan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (24/10/2017).Foto Agung Rahmadiansyah/Tempo
Pengunjung melintas di depan papan tampilan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (24/10/2017).Foto Agung Rahmadiansyah/Tempo

TEMPO.CO, JakartaPresiden Direktur PT Plaza Indonesia Realty Tbk Rosano Barack melepas seluruh sahamnya di perseroan. Mertua dari artis Syahrini itu telah melepas 44.216.600 saham atau 1,24 persen dari seluruh saham yang ditempatkan dan disetor penuh dalam perseroan.

Hal tersebut tertuang dalam laporan perusahaan dengan kode saham PLIN yang diunggah pada keterbukaan informasi di laman Bursa Efek Indonesia pada Jumat, 4 September 2020. "Setelah transaksi menjadi nol saham atau nol persen dari seluruh saham yang ditempatkan dan disetor penuh dalam perseroan," termaktub dalam laporan yang ditandatangani Rosano.

Transaksi itu dilakukan pada 27 Agustus 2020. Adapun harga pengalihan per saham adalah Rp 3.740. Dengan demikian, Rosano meraup sedikitnya Rp 165.370.084.000 atau Rp 165,4 miliar dari transaksi tersebut.

Aksi petinggi perseroan menjual sahamnya bukanlah hal baru dalam dunia pasar modal. Belum lama ini, beberapa petinggi perusahaan emiten Bursa Efek Indonesia juga tercatat melepas sahamnya. Berikut ini adalah sejumlah catatan yang dikumpulkan Tempo.

1. Bank BCA

Sejumlah direksi Bank BCA sempat tercatat melepas sahamnya di perseroan pada Juli lalu. Berdasarkan laporan pada keterbukaan informasi di situs Bursa Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dilansir pada Ahad, 12 Juli 2020, Corporate Secretary BCA Raymon Yonarto menyampaikan laporan kepemilikan saham sejumlah direksi pada awal Juli 2020.

Sejumlah direksi dilaporkan melepas harga saham perseroan di kisaran harga Rp 31.000 per lembar pada 9 Juli 2020 - 10 Juli 2020. Ramon menyebutkan, Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja menjual sebanyak 25.000 lembar dengan harga penjualan Rp 31.125 per saham. Transaksi itu dilakukan pada 10 Juli 2020 dengan status kepemilikan saham langsung.

Jahja juga melepas 25.000 saham lagi pada 10 Juli 2020 namun dengan harga yang berbeda yakni Rp 31.100 per lembar. Sehari sebelumnya atau 9 Juli 2020, dia juga telah melepas 50.000 lembar saham emiten bersandi BBCA tersebut. Harga penjualan senilai Rp 31.050 per lembar dengan status kepemilikan langsung.

Langkah serupa juga dilakukan oleh Direktur BCA Erwan Yuris Ang. Ia melepas 50.000 lembar dengan harga Rp 31.150 per saham pada 10 Juli 2020. 

Direktur BCA Rudy Susanto juga melepas 54.500 lembar dengan harga Rp 31.025 per saham pada 9 Juli 2020. Selanjutnya, penjualan juga dilakukan periode yang sama untuk 145.500 lembar di level harga Rp 31.000.

Adapun penjualan 100.000 saham BBCA juga dilakukan oleh Direktur BCA Lianawaty Suwono pada 9 Juli 2020. Sebanyak 50.000 lembar di lepas dengan harga Rp 31.050 dan 50.000 lembar dengan harga Rp 31.025.

Jahja Setiaatmadja pun sempat angkat bicara soal jajaran direksinya yang melepas sahamperseroan yang dimilikinya pada awal Juli 2020 lalu. Menurut Jahja, hal tersebut wajar dilakukan. 

"Wajar saja. Ada istilah dalam investasi, kalau orang jangan taruh telur dalam 1 basket. Punya 10 telur jangan ditaruh di 1 basket. kalau goyang, pecah, semua hancur. Kita harus pilah-pilah," ujar Jahja dalam BCA Virtual Editor Meeting, Senin, 13 Juli 2020. Begitu juga yang terjadi pada saham BCA. "Jadi kalau punya saham BCA, ya ada saatnya kita nikmati. Kalau kita sudah kerja setengah mati, kapan kita mau nikmati?" tuturnya.

2. Krakatau Steel

Direktur Utama PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. Silmy Karim tercatat melepas seluruh kepemilikan sahamnya di perusahaan yang dipimpinnya pada Juni lalu.

Dalam keterbukaan informasi ke Bursa Efek Indonesia pada hari ini, Ahad, 21 Juni 2020, Direktur Utama Krakatau Steel Silmy Karim menyampaikan dirinya menjual saham berkode KRAS sebanyak 5.400.300 saham atau setara dengan 0,028 persen. "Jumlah saham yang dimiliki setelah transaksi menjadi hanya 0," kata Silmy, seperti dikutip dari surat tertanggal 19 Juni 2020 itu. 

Harga penjualan per lembar saham KRAS itu berbeda-beda, yakni Rp 278, Rp 280, Rp 282, dan Rp 284. Tanggal transaksi dilakukan pada 11 Juni 2020. Status kepemilikan saham adalah langsung.

Kala itu, Silmy menjelaskan bahwa saham sebagai instrumen yang likuid. Menurutnya, tidak mudah untuk menjual aset investasi lainnya di tengah pandemi Covid-19. “Berhubung ada keperluan maka saya jual saham saja,” katanya.

Silmy mengungkapkan tidak hanya melepas kepemilikan sahamnya di KRAS. Artinya, pria yang pernah menjabat sejumlah posisi direktur utama di badan usaha milik negara itu juga menjual portofolio sahamnya di emiten lain.

Meski telah melepas seluruh saham miliknya, Silmy mengatakan akan berbelanja lagi saham emiten berkode KRAS tersebut. Menurutnya, produsen baja itu masih memiliki prospek yang baik. “KRAS ke depan cukup baik sejalan dengan rencana-rencana perseroan,” kata Silmy kepada Bisnis, Senin, 22 Juni 2020.

3. Mitra Adiperkasa

Komisaris PT Mitra Adiperkasa Tbk. (MAPI) atau Grup MAP Johanes Ridwan sempat mengumumkan penjualan seluruh saham yang dimilikinya pada pekan Juni lalu. Hal ini diketahui dari keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin, 22 Juni 2020. Johanes menjual 250.000 lembar sahamnya pada periode Rabu pekan lalu, 17 Juni 2020 hingga Kamis, 18 Juni 2020. 

Rata-rata nilai nominal harga saham yang dijualnya adalah Rp770, sehingga jika merujuk pada jumlah saham yang ditransaksikannya, Johanes meraup dana segar sebesar Rp 192,5 juta. 

Dalam keterangan tersebut, disebutkan bahwa setelah transaksi tersebut, ia tak lagi memiliki saham di salah satu perusahaan jaringan ritel terbesar di Indonesia tersebut. Sebelumnya, status kepemilikan sahamnya pada emiten berkode MAPI tersebut adalah langsung dengan tujuan investasi. 

4. Gudang Garam

Salah satu direksi PT Gudang Garam Tbk. (GGRM) juga sempat tercatat menjual seluruh kepemilikan sahamnya di perseroan sebanyak 4.700 saham.

Dalam keterbukaan informasi, Direktur Gudang Garam Susanto Widiatmoko menyampaikan pada 15 Mei 2020 dirinya menjual 4.700 saham GGRM dengan harga Rp 49.000. Dengan demikian, total transaksi mencapai Rp 230,3 juta. "Tujuan transaksi ialah investasi, status kepemilikan saham adalah langsung," kata Susanto, dikutip Jumat, 22 Mei 2020.

CAESAR AKBAR | BISNIS

Baca: Sebelum Mertua Syahrini Lepas Saham, Plaza Indonesia Jelaskan Kinerja ke BEI


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT