Amnesty Minta Polisi Buktikan Ipar Edo Kondologit Tewas Dianiaya Tahanan Lain
TEMPO.CO | 01/09/2020 08:28
Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia Usman Hamid di kantornya, Menteng, Jakarta, 12 April 2018. TEMPO/Hendartyo Hanggi
Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia Usman Hamid di kantornya, Menteng, Jakarta, 12 April 2018. TEMPO/Hendartyo Hanggi

TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Eksekutif Amnesty Internasional Indonesia Usman Hamid mengatakan Kepolisian harus membuktikan pernyataan mereka bahwa George Karel Rumbino, tewas karena dianiaya tahanan lain di Polres Sorong, Papua Barat. George merupakan ipar dari musisi Edo Kondologit.

"Untuk kasus Sorong, pernyataan polisi bahwa tersangka dianiaya tahanan lain hingga tewas harus dibuktikan secara hukum, termasuk dengan menunjukkan bukti CCTV," ujar Usman dalam keterangan tertulis, Selasa, 1 September 2020.

Usman mengatakan peristiwa ini menunjukkan kesewenang-wenangan polisi dalam menggunakan kekuasaannya di dalam melaksanakan proses hukum. Meski mungkin George benar tewas karena penganiyaan tahanan lain, namun ia menegaskan bahwa polisi seharusnya bisa mencegah hal tersebut.

"Aparat kepolisian tidak bisa lepas tangan karena keselamatan tahanan di penjara polisi merupakan tanggung jawab polisi," kata Usman.

Ia mengatakan proses hukum harus dilakukan secara transparan dan akuntabel. Polisi seharusnya tak menutup-nutupi atau bahkan merekayasa kejadian ini. Usman menyebut keluargakorban berhak tahu apa yang sebenarnya terjadi.

"Jangan sampai ada impunitas hukum seperti yang selama ini terjadi," ujar Usman.

Sebelumnya menurut Edo Kondologit, George Karel Rumbino alias Riko meninggal kurang dari 24 jam setelah diserahkan ke pihak Polres Sorong oleh keluarga. Pria berusia 21 tahun itu diduga terlibat dalam kematian seorang perempuan tetangga mereka di Pulau Doom, Sorong, Papua Barat, pada Rabu malam, 26 Agustus 2020.

Riko ditengarai berada di bawah pengaruh minuman keras dan narkoba. Di bawah tempat tidurnya juga ditemukan telepon seluler dan charger milik korban. Riko kemudian dibawa ke Polresta Sorong pada Kamis, 27 Agustus pagi. Keesokan harinya, keluarga menerima kabar bahwa Riko sudah meninggal.

Edo mengatakan, menurut informasi yang mereka terima, Riko sudah meninggal sejak Kamis malam. Ia berujar, Riko diduga sudah dipukuli dan dianiaya sejak dari mobil yang membawanya ke Polres. Setibanya di Polres, kata Edo, Riko diduga juga dipukuli dan dianiaya tahanan lain.

 

 

 


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT