Menlu Retno Marsudi: Investasi Cina di RI Meningkat 9 Persen Semester I 2020
TEMPO.CO | 21/08/2020 06:13
Menteri Luar Negeri China Wang Yi bertemu Menlu RI Retno LP Marsudi di Balai Agung Rakyat, Beijing, Rabu (14/4/2019). Pertemuan bilateral tersebut mengawali rangkaian Konferensi Kerja Sama Internasional Sabuk Jalan (BRF) di Beijing pada 24-27 April 2019.
Menteri Luar Negeri China Wang Yi bertemu Menlu RI Retno LP Marsudi di Balai Agung Rakyat, Beijing, Rabu (14/4/2019). Pertemuan bilateral tersebut mengawali rangkaian Konferensi Kerja Sama Internasional Sabuk Jalan (BRF) di Beijing pada 24-27 April 2019. ANTARA FOTO/M. Irfan Ilmie/

TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengatakan investasi Cina di Indonesia meningkat 9 persen pada semester I 2020.

"Untuk semester I 2020, terjadi peningkatan investasi dari 2,2 miliar dolar AS (sekitar Rp 32,49 triliun) jadi 2,4 miliar dolar AS (sekitar Rp 35,45 triliun), atau meningkat sembilan persen dibanding semester pertama 2019," kata Retno saat jumpa pers virtual usai menghadiri pertemuan bilateral dengan Pemerintah Cina di Kota Sanya, Hainan, Cina, Kamis malam, 20 Agustus 2020.

Sejauh ini, Cina masih menempati urutan kedua untuk nilai investasi terbesar di Indonesia. Di atas Cina, Singapura menempati urutan pertama sebagai negara dengan penanaman modal terbesar di Indonesia. 

Menurut Retno, Indonesia dapat menekan defisit perdagangan dengan Cina karena angka ekspor naik dan nilai impor menurun pada semester I 2020. "Maka angka defisit Indonesia dapat ditekan sebesar 46,08 persen," kata dia.

Retno menyebutkan bahwa nilai ekspor Indonesia ke Cina meningkat 11,74 persen menjadi US$ 13,77 miliar (sekitar Rp 203,38 triliun) pada semester I 2020 dibandingkan nilai ekspor pada semester I 2019, yakni sebesar US$ 12,32 miliar (sekitar Rp 181,96 triliun).

Kenaikan ekspor itu diiringi dengan penurunan impor dari Cina ke Indonesia sebesar -11,86 persen.

Terkait dengan peningkatan kerja sama dagang dua negara, Retno mengusulkan pembentukan kelompok kerja bersama untuk perdagangan dengan Cina dalam pertemuan tersebut.

"Indonesia mengusulkan Joint Working Group for Trade guna memfasilitasi berbagai hambatan perdagangan dan memfasilitasi semakin dibukanya pasar Cina bagi produk Indonesia," ujar Retno.

Delegasi Indonesia pada pertemuan bilateral di Kota Sanya pada Kamis dipimpin Menlu Retno dan Menteri Badan Usaha Milik Negara Erick Thohir. Sementara delegasi Cina dipimpin oleh Menteri Luar Negeri Cina Wang Yi.

Pertemuan bilateral itu membahas sejumlah isu, di antaranya penguatan kerja sama di bidang perdagangan dan investasi, kesehatan, serta keamanan.

"Dalam pertemuan bilateral tadi, antara lain dibahas: pertama, komitmen kedua negara untuk terus memperkokoh kerja sama bilateral berdasarkan asas saling menghormati dan saling menguntungkan. Kedua, komitmen kedua negara untuk terus menjaga stabilitas dan keamanan kawasan. Ketiga, komitmen untuk meningkatkan kerja sama di bidang vaksin," ujar Menlu Retno.

Selain menghadiri pertemuan bilateral, Menlu Retno dan Erick turut menyaksikan penandatanganan dokumen perjanjian awal penjualan dan nota kesepahaman pembelian prioritas antara PT Bio Farma (Persero) dan perusahaan bioteknologi asal China, Sinovac Biotech Ltd di Kota Sanya, Kamis.

Tidak hanya itu, dua menteri yang diutus Presiden RI Joko Widodo ke Cina itu juga menemui perwakilan dari Grup Farmasi Nasional China (Sinopharm) dan perusahaan vaksin CanSinoBio, serta perusahaan konstruksi China Railway.

Usai melakukan kunjungan kerja di Cina, Menlu Retno dan Menteri BUMN Erick Thohir akan melanjutkan perjalanan ke Uni Emirat Arab untuk menindaklanjuti kerja sama bilateral bidang ekonomi dan pengadaan vaksin Covid-19.

ANTARA


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT