8 Faktor yang Akan Pengaruhi IHSG Pekan Ini
TEMPO.CO | 18/08/2020 06:54
Ilustrasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup naik. (ANTARAFOTO)
Ilustrasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup naik. (ANTARAFOTO)

TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Anugerah Mega Investama Hans Kwee memperkirakan Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG akan melemah pada perdagangan sepanjang pekan ini.

"IHSG berpeluang melemah pada perdagangan pendek pekan ini dengan support di level 5.178 sampai 5.119 dan resistance di level 5.218 sampai 5.300," ujar dia dalam pesan singkat kepada Tempo, Senin, 17 Agustus 2020.

Sedikitnya, Hans menyebut ada delapan sentimen yang mungkin mempengaruhi pergerakan IHSG pada pekan ketiga Agustus 2020.

Pertama adalah terjadinya kebuntuan pembahasan stimulus fiskal di Kongres Amerika Serikat yang menjadi sentimen negatif bagi pasar keuangan. 
Ia menyebut masih banyak perbedaan antara partai Republik dan Demokrat dan menjadi lebih sulit karena mendekati pemilu AS. "Kedua partai tentu ingin rancangan paket yang menguntungkan dan menaikkan popularitas kandidat mereka. Bila tidak terjadi kesepakatan dalam jangka pendek akan menjadi sentimen negatif bagi pasar," tutur dia.

Kedua, pelaku pasar mencermati pertemuan pejabat senior dari Cina dan Amerika Serikat melalui konferensi video untuk meninjau kesepakatan perdagangan Fase 1 yang ditandatangani kedua Negara pada bulan Januari. Hal ini terjadi di tengah hubungan diplomatik yang memburuk antara kedua negara. Perkembangan pembahasan akan menjadi sentimen yang menggerakan pasar.

Ketiga, Hans melihat langkah Inggris menambah lebih banyak negara dalam daftar karantina menjadi sentimen negatif bagi pasar. Hal ini diperkirakan mendorong langkah yang sama dilakukan negara-negara lain untuk menghalangi penyebaran pandemi Covid-19 dan membalas serta memberikan perlakukan yang sama. "Hal ini dapat mendorong kemunduran perekonomian," ujar dia.

Keempat adalah mengenai data klaim pengangguran AS yang pertama kali turun di bawah 1 Juta semenjak pertama kali dimulai pandemi Covid-19. Hal ini, ujar Hans, menunjukkan perbaikan data, meskipun terjadi peningkatan kasus penyebaran virus Corona.

Namun demikian, adanya lebih dari 28 juta orang yang menerima cek pengangguran, menurut dia, menunjukkan pasar tenaga kerja dan ekonomi negeri Abang Sam masih lemah.

Kelima adalah data ekonomi yang keluar baru-baru ini. Hans mengatakan data tersebut cukup variatif, tetapi masih jauh di bawah dari data sebelum pandemi Corona. "Data penjualan ritel Cina yang lebih jelek dari harapan memberikan indikasi momentum perbaikan ekonomi negara tersebut melambat," ujar Hans.

Keenam adalah masih naiknya data infeksi Covid-19 di dunia dan beberapa negara yang membuat pasar cukup hati-hati. Saat ini, tutur Hans, ada 21 juta lebih kasus dan 770 ribu orang meninggal. Di Amerika Serikat kasus Covid-19 tercatat t ada 5,5 juta kasus dan jumlah meninggal 172 ribu orang.

Ketujuh adalah negara-negara Eropa mulai khawatir akan gelombang kedua Covid-19. "Mulai ada kasus baru di beberapa negara mendorong kekhawatiran langkah lockdown terbatas akan mengganggu pemulihan ekonomi kawasan," kata Hans.

Kedelapan, sentimen dari dalam negeri berasal dari pidato Presiden Joko Widodo di Sidang Tahunan MPR beberapa waktu lalu. Hans melihat pidato tersebut tidak terlalu direspons pasar.

"Tampaknya asumsi ekonomi yang disampaikan sudah di price-in atau sesuai harapan pasar. Terlihat harapan pemulihan ekonomi di tahun 2021 dari asumsi data makro dalam pidato Presiden," kata Hans.

CAESAR AKBAR

Baca juga:
Pidato Jokowi Dianggap Tumbuhkan Optimisme, IHSG Ditutup Menguat di 5.247,69

 


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT