Angkasa Pura I: Penataan Bandara Hub Membuat Layanan Lebih Terfokus dan Efisien
TEMPO.CO | 11/08/2020 03:30
Suasana sepi di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Kamis, 9 Juli 2020. Ketatnya persyaratan untuk melakukan perjalanan udara tersebut menyebabkan aktivitas penerbangan di bandara tersebut tampak sepi. TEMPO / Hilman Fathurrahman W
Suasana sepi di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Kamis, 9 Juli 2020. Ketatnya persyaratan untuk melakukan perjalanan udara tersebut menyebabkan aktivitas penerbangan di bandara tersebut tampak sepi. TEMPO / Hilman Fathurrahman W

TEMPO.CO, Jakarta – Para pengelola bandara mulai menggenjot potensi sejumlah bandara utama yang diwacanakan menjadi super hub atau pintu jalur udara internasional menuju Indonesia. Sekretaris Perusahaan PT Angkasa Pura I (Persero), Handy Heryudhitiawan, mengatakan penataan bandara hub bisa membuat layanan operasional lebih terfokus dan efisien.

“Ini strategi penerbangan nasional untuk menyesuaikan layanan dan peran setiap bandara,” ucapnya kepada Tempo, Senin 10 Agustus 2020,  

Bila fungsi bandara sudah terkonsep, baik untuk hub domestik maupun rute asing, perusahaan bisa menata operasional sesuai kebutuhan. Handy memastikan sejumlah bandara yang menjadi calon super hub sudah dikembangkan selama beberapa tahun terakhir oleh Angkasa Pura I.

Bandara Sultan Hasanuddin di Makassar, dia mencontohkan, sudah lama berfungi sebagai gerbang masuk langit Indonesia Timur. “Sudah relevan dengan konsep hub, apalagi kapasitas terminalnya kami naikkan dua kali lipat untuk menunjang lonjakan demand.”

Bandara Kulon Progo alias Yogyakarta International Airport pun menjadi calon kuat super hub dengan lahan seluas 583 hektare dan kesiapan menampung 8,8 juta penumpang per tahun di Yogyakarta.

Bandara I Gusti Ngurah Rai di Bali pun masuk daftar terdepan super hub dengan potensi kepadatan 24 juta penumpang per tahun. Meski sedang sepi akibat pandemi Covid-19, bandara ini tetap menjadi lahan terbang tersibuk di antara 15 bandara Angkasa Pura I. “Bandara ini sudah mapan sebagai hub tourism terbesar di Indonesia,” tutur Handy.

Akhir pekan lalu, Presiden Joko Widodo memerintahkan pembenahan sektor penerbangan dan pariwisata karena catatan buruk kedua sektor tersebut di triwulan II tahun ini. Jokowi berniat menata 30 bandara berstatus internasional yang dianggap terlalu banyak tanpa kinerja mumpuni.

“Apakah perlu sebanyak ini? Negara lain saya kira tidak melakukan ini,” ucapnya di Istana Kepresienan.

Meski banyak bandara internasional, menurut Jokowi, 90 persen lalu lintas udara hanya terpusat di empat bandara utama, yakni Soekarno-Hatta di Jakarta, Ngurah Rai di Bali, Juanda di Jawa Timur, dan Kualanamu di Sumatera Utara. Dia meminta para menteri segera menentukan lokasi potential untuk ‘international hub’ dengan pembagian fungsi yang sesuai dengan letak geografis dan karakteristik wilayah.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Novie Riyanto memastikan arahan presiden dibahas bersama Kementerian Badan Usaha Milik Negara dan pelaku aviasi lainya. “Tentu ditindaklanjuti,” ujarnya, kemarin.

Sekretaris Perusahaan PT Angkasa Pura II (persero), Yado Yarismano, mengatakan manajemennya memang sudah merencanakan Bandara Kualanamu sebagai hub internasional wilayah barat Indonesia. Dalam strategi korporasi itu, perusahaan pun mencari rekanan untuk memodali pengembangan bandara tersebut, sekaligus mengembangkan rutenya untuk menjadi penghubung Eropa dan Asia ke kawasan Australia.

Saat ini, Kualanamu sudah bisa menampung total pergerakan 8-9 juta penumpang per tahun, baik domestik maupun asing. “Sekarang porsi volumenya masih 70 persen flight dalam negeri, kami ingin genjot flight asing dengan Medan sebagai hub.”

DEWI NURITA | YOHANES PASKALIS       

 

 


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT