Satu-satunya Zona Merah di Jawa Barat, Kota Depok: Klaster Perkantoran
TEMPO.CO | 07/08/2020 21:14
Warga tampak tidak mengenakan masker saat mengunjungi pasar kaget di kawasan Bojongsari, Depok, Jawa Barat, Sabtu, 11 Juli 2020. Kelurahan Bojongsari merupakan salah satu dari 13 kelurahan di Kota Depok yang termasuk dalam zona hijau COVID-19. TEMPO/Nurdi
Warga tampak tidak mengenakan masker saat mengunjungi pasar kaget di kawasan Bojongsari, Depok, Jawa Barat, Sabtu, 11 Juli 2020. Kelurahan Bojongsari merupakan salah satu dari 13 kelurahan di Kota Depok yang termasuk dalam zona hijau COVID-19. TEMPO/Nurdiansah

TEMPO.CO, Depok - Pemerintah Kota Depok akan meningkatkan sinergi dengan pemerintah pusat dan Jawa Barat dalam penanganan pandemi Covid-19, setelah masuk dalam zona merah Covid-19. Kota Depok menjadi satu-satunya kota di Jawa Barat yang masuk zona merah. 

"Diperlukan sinergi pusat, provinsi dan daerah, karena penanganan pandemi Covid-19 ini harus dari hulu sampai hilir dan ada integrasi kebijakan, terutama daerah-daerah di Jabodetabek," kata Juru Bicara Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kota Depok Dadang Wihana di Depok, Jumat 7 Agustus 2020.

Sebelumnya Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Pusat Wiku Adisasmito menyatakan ada penambahan 13 kabupaten dan kota yang tadinya berada di zona oranye (risiko sedang) menjadi zona merah (risiko tinggi). Salah satunya adalah Kota Depok.

Dadang mengatakan, Gugus Tugas Kota Depok mencoba melakukan komunikasi dengan tim pakar epidemologi Satgas Penanganan COVID-19 Pusat yang menghitung nilai sehingga Depok masuk zona merah. Menurut hitungan mereka adalah mingguan, berdasarkan parameter yang sudah mereka tentukan.

"Akan tetapi dalam rilis tidak disebutkan periode waktunya dari tanggal berapa ke tanggal berapa," ujarnya.

Sesuai arahan Ketua Gugus Tugas, Kota Depok kini menguatkan kembali upaya pencegahan dan penanganan pada tingkat RW/Kampung Siaga. "Kami juga terus mengingatkan dan mengawasi pelaksanaan protokol kesehatan, baik individu seperti penggunaan masker maupun di aktivitas kantor, tempat umum dan tempat kerja lainnya," katanya.

Hari ini, gugus tugas dan camat melakukan rapat konsolidasi teknis, untuk menindaklanjuti sejumlah kebijakan dan langkah-langkah taktis.

Dadang mengatakan kasus Covid-19 di Depok dan Jabodetabek sangat fluktuatif. Penambahan kasus minggu ini cukup banyak sebagai dampak dari tingginya pergerakan orang, dan terjadi pada klaster perkantoran yang berpotensi terjadinya penularan dalam lingkungan keluarga.

"Perlu pengawasan protokol kesehatan pada semua aktivitas, terutama pada lingkungan keluarga, karena rata-rata berawal dari aktivitas di luar Depok yang berdampak pada anggota keluarga," katanya.

Meskipun mungkin masyarakat Kota Depok sudah jenuh dengan imbauan bermasker, jaga jarak dan cuci tangan, tapi hal ini harus menjadi kebutuhan setiap individu. Apalagi Depok menjadi satu-satunya zona merah di Jawa Barat. "Kita harus bisa proteksi diri kita, terlebih yang memiliki aktivitas di luar untuk bekerja, karena 60 persen warga Depok adalah pelaju yang bekerja di sekitar Jakarta, Tangerang dan Bekasi," jelasnya.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT