Harga Emas Terus Melambung, Investasi Saham Ditinggalkan?
TEMPO.CO | 03/08/2020 05:20
Pekerja menyelesaikan pembuatan cicin emas di Cikini, Jakarta, Selasa, 28 Juni 2020. Pada Selasa (28/7), harga emas Antam berada di Rp1.022.000 per gram atau naik Rp25.000 per gram dibanding hari sebelumnya. TEMPO/Tony Hartawan
Pekerja menyelesaikan pembuatan cicin emas di Cikini, Jakarta, Selasa, 28 Juni 2020. Pada Selasa (28/7), harga emas Antam berada di Rp1.022.000 per gram atau naik Rp25.000 per gram dibanding hari sebelumnya. TEMPO/Tony Hartawan

TEMPO.CO, Jakarta - Di tengah melambungnya harga emas hingga mencatat rekor baru sepanjang sejarah belakangan ini, pergerakan saham justru diperkirakan sebaliknya. Karakteristik investasi emas sebagai safe haven menyebabkan orang-orang beralih ke komoditas logam mulia tersebut apabila risiko perekonomian global meningkat.

"Yang kami khawatirkan adalah pasar saham. Pasar saham menunjukkan divergen yang berbeda arah dengan harga emas. Memang biasanya kalau harga emas naik, artinya aset berisiko dilepas orang. Jadi makanya kita harus hati-hati bahwa yang terjadi di pasar saham ini agak berbeda," ujar Direktur Anugerah Mega Investama Hans Kwee  Hans kepada Tempo, Ahad, 2 Agustus 2020.

Kemarin, Ahad, 2 Agustus 2020, harga emas emas ukuran 1 gram yang dijual di Pegadaian mencapai Rp 1.043.000 untuk cetakan Antam dan Rp 1.035.000 untuk cetakan UBS. 

Hans menyebut setidaknya ada tiga isu yang akan meningkatkan risiko global dan menyebabkan investor mengalihkan modalnya dari aset seperti saham. Pertama adalah risiko resesi global. "Dunia mulai mengonfirmasi akan adanya resesi global, misalnya Amerika Serikat dan Eropa, sehingga harga emas naik."

Berikutnya adalah perang dagang Amerika Serikat-Cina yang naik turun berkali-kali. Ketegangan kedua negara yang tak kunjung reda ini juga menyebabkan risiko perekonomian global meningkat. Ia mengatakan tensi antara dua negara tersebut memang naik turun, namun isu yang diperdebatkan pun semakin banyak sehingga menimbulkan risiko global.

Terakhir, kata Hans, pandemi Covid-19 yang belum mereda juga menimbulkan kekhawatiran para pelaku pasar. Mereka khawatir pemerintah setempat akan melakukan pembatasan aktivitas ekonomi kembali. Kondisi itu lah yang membuat orang mengalihkan asetnya ke emas.

"Memang kalau investasi, orang akan memilih mana yang lebih aman. Kalau risiko global meningkat, maka saya akan mengalihkan ke aset yang bebas risiko, misalnya pasar uang atau emas. Perpindahan itu artinya saya menjual yang berisko dan beli yang tidak berisiko," kata Hans.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT