Kasus Kematian Editor Metro TV, Polisi: Tes HIV Negatif
TEMPO.CO | 26/07/2020 13:30
Tim gabungan Polisi dan TNI melakukan proses evakuasi dan identifikasi mayat editor Metro TV bernama Yodi Prabowo di pinggi To JORR jalan Ulujami Raya, Pesanggrahan, Jakarta Selatan, Jumat (10/7/2020). (ANTARA/Laily Rahmawaty)
Tim gabungan Polisi dan TNI melakukan proses evakuasi dan identifikasi mayat editor Metro TV bernama Yodi Prabowo di pinggi To JORR jalan Ulujami Raya, Pesanggrahan, Jakarta Selatan, Jumat (10/7/2020). (ANTARA/Laily Rahmawaty)

TEMPO.CO, Jakarta - Polda Metro Jaya menyatakan hasil pemeriksaan tes HIV yang dilakukan editor Metro TV Yodi Prabowo negatif. Yodi melakukan tes HIV di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) sebelum ditemukan tewas di Tol JORR Ulujami.

"Iya negatif, dia tes itu atas keinginannya sendiri," ujar Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Komisaris Besar Tubagus Ade Hidayat saat dihubungi Tempo, Ahad, 26 Juli 2020.

Berdasarkan penyelidikan polisi, Yodi Prabowo melakukan tes HIV di dokter spesialis penyakit kulit dan kelamin di RSCM karena mengalami sejumlah keluhan kesehatan. Namun Tubagus enggan menjawab  apakah keluhan tersebut mengarah ke ciri-ciri orang yang terkena HIV/AIDS. 

"Hal lain yang sifatnya pribadi saya nggak boleh ungkapkan, nggak etis," ujar Tubagus. 

Kabid Humas Polda Metro Jaya menunjukkan barang bukti gambar rekaman cctv aktivitas editor Metro TV Yodi Prabowo dalam konferensi pers di Polda Metro Jaya, Jakarta, Sabtu, 25 Juli 2020. Gambar tersebut memperlihatkan mendiang Yodi tengah membeli sebuah pisau di salah satu tempat perbelanjaan di kawasan Rempoa. TEMPO/Hilman Fathurrahman W

Dalam mengusut kematian editor Metro TV Yodi Prabowo, polisi sempat yakin kasus ini adalah pembunuhan. Sebelum ditemukan tewas, Yodi dilaporkan hilang dua hari, atau pada Selasa malam sepulang dari kantornya di Metro TV.   
 
Selama 2 pekan penyelidikan, polisi telah mengecek beberapa CCTV yang buram, mengecek sidik jari dan DNA di Puslabfor Mabes Polri, mengerahkan anjing pelacak, hingga memeriksa 34 saksi, termasuk kekasih korban. 

Namun dari hasil pemeriksaan itu, polisi mendapatkan bukti yang mengarah Yodi bunuh diri dengan menikam dadanya sebanyak 4 kali dan leher sebanyak 2 kali. Sebanyak 3 tikaman di dada dan 1 di leher berjenis dangkal dan hanya sedalam 2 sentimeter. 

"Berdasarkan psikologi forensik, setiap orang yang bunuh diri ada luka percobaan bunuh diri. Dalam kasus ini, luka dangkal itu (buktinya)," ujar Tubagus. 

Dari hasil pemeriksaan, editor Metro TV itu juga mengonsumsi narkotika amfetamin sebelum bunuh diri. Yodi Prabowo juga mengalami permasalahan asmara dan kesehatan hingga melakukan tes HIV. Pengaruh depresi dan efek narkotika amfetamin diduga menjadi penyebab Yodi nekat mengakhiri hidupnya.

 


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT