Jurus BCA Agar Kredit Bermasalah Tidak Melonjak
TEMPO.CO | 16/07/2020 03:17
CEO BCA Jahja Setiaatmadja di sela kegiatan Leadership Sharing Session 100 Bankir di Hotel J.W. Marriot Mega Kuningan, Jakarta Pusat, 28 November 2017. TEMPO Yohanes Paskalis Pae Dale
CEO BCA Jahja Setiaatmadja di sela kegiatan Leadership Sharing Session 100 Bankir di Hotel J.W. Marriot Mega Kuningan, Jakarta Pusat, 28 November 2017. TEMPO Yohanes Paskalis Pae Dale

TEMPO.CO, Jakarta - PT Bank Central Asia Tbk atau BCA  menargetkan rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) hingga akhir tahun tidak akan melampaui 3 persen.

Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja mengatakan perseroan mengandalkan program restrukturisasi untuk menahan kenaikan NPL pada tahun ini. Menurutnya, program ini berdampak signifikan terhadap upaya pengelolaan kualitas kredit perseroan. “NPL akan kami jaga di kisaran 2 persen—3 persen [hingga akhir tahun],” kata  Jahja Setiaatmadja kepada Bisnis, Rabu, 15 Juli 2020.

Berdasarkan laporan keuangan per 31 Maret 2020, total kredit yang direstrukturisasi di BCA mencapai Rp 8,98 triliun. Restrukturisasi kredit paling banyak dilakukan pada kredit dalam kategori lancar dan kategori Dalam Pengawasan Khusus (DPK), masing-masing sebesar Rp 2,83 triliun dan Rp 4,01 triliun.

Per akhir Maret 2020, perseroan mencatatkan NPL gross senilai Rp 9,59 triliun dan rasio NPL gross sebesar 1,6 persen. Posisi itu meningkat dari level pada akhir tahun lalu yang sebesar Rp7,87 triliun atau dengan rasio 1,34 persen.

Total penyaluran kredit BCA sebelum dikurangi Cadangan Kerugian Penurunan Nilai Keuangan (CKPN) pada periode tersebut meningkat 1,61 persen, menjadi Rp 596,4 triliun.

Meski kredit lancar masih tetap mendominasi, seluruh kredit kolektibilitas lainnya mengalami peningkatan dua digit secara kuartalan.

Sementara itu, berdasarkan keterbukaan informasi ke Bursa Efek Indonesia (BEI), perseroan menyampaikan bahwa pandemi telah mengakibatkan penghentian operasional sebagian yang berakibat pada penurunan pendapatan dan laba bersih.

“Terdapat layanan operasional yang ditutup, seperti Kantor Kas, Kas Mobil dan BCA Express, karena kegiatan usaha di sekitarnya tutup  atau tidak beroperasi mengikuti kebijakan pemerintah seperti pusat perbelanjaan, pusat bisnis dan perdagangan,” tulis manajemen, dikutip dari keterbukaan informasi pada Rabu (15/7/2020).

Perseroan menyampaikan akibat kendala ini, sebagian fasilitas EDC untuk transaksi kartu kredit dan debit berhenti beroperasi terkait peraturan Pembatasan Sosial Berskala Besar atau PSBB.

Hingga akhir Mei 2020, perseroan memperkirakan pendapatan dan laba bersih mengalami penurunan sekitar 25 persen terhadap kinerja pada periode yang sama tahun sebelumnya.

BISNIS


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT