Cerita Saat Anak-anak Temukan Mayat Editor Metro TV Yodi Prabowo
TEMPO.CO | 15/07/2020 05:58
Keplisian memasang garis polisi melingkari lokasi ditemukannya mayat editor video Metro TV Yodi Prabowo di seberang kiri Tol JORR atau di bawah pohon trembesi di sisi kiri Jalan Ulujami Raya, Pesanggrahan, Jakarta Selatan sejak ditemukannya mayat Yodi pad
Keplisian memasang garis polisi melingkari lokasi ditemukannya mayat editor video Metro TV Yodi Prabowo di seberang kiri Tol JORR atau di bawah pohon trembesi di sisi kiri Jalan Ulujami Raya, Pesanggrahan, Jakarta Selatan sejak ditemukannya mayat Yodi pada Jumat, 10 Juli 2020. TEMPO/Ihsan Reliubun

TEMPO.CO, Jakarta -Editor Metro TV  Yodi Prabowo 25 tahun, ditemukan tak bernyawa dalam posisi tengkurap dengan tubuh menghadap tembok dengan kaki menekuk tanah.

Mayat editor Metro TV ini pertama kali ditemukan anak-anak pada Jumat 10 Juli 2020. Kini, lokasi kematian di sisi kiri Tol JORR atau di sebelah kanan Jalan Ulujami Raya, Pesanggrahan, Jakarta Selatan, terpasang garis polisi.


Anak-anak berlari di sisi tembok dari arah kuburan Gebor menuju tempat sang mayat. Dari situ, mereka kembali menghampiri pemilik mebel yang tengah berjibaku dengan pekerjaannya. "Ada mayat Pakde!" kata Sawal meniru ucapan para bocah. "Yang benar," kata Sawal kepada mereka. Anak-anak itu menjawab, "Iya Pakde."

Ia menyatakan anak-anak berusia sekitar sepuluh tahun berjumlah lima orang melaporkan keberadaan mayat itu dengan tangan kosong. "Waktu lari itu enggak bawa layangan. Kalau cari layangan kan pasti bawa benang, tapi itu enggak," tutur Sawal. "Analisa saya, anak-anak itu benar cari layangan apa enggak."

Setelah menerima info anak-anak itu, Sawal lantas meminta Junaidi menengok tempat keneradaan mayat. Pekerja batu nisan itu datang dan melihat sepintas dari jarak satu meter. Lalu ia katakan ke Sawal yang baru menyusul, di situ ada mayat. "Kaget aku, tiba-tiba ada mayat di situ," tutur Junaidi, 48 tahun.

Melihat lingkungan tempat sekitar tubuh Yodi tengkurap, kata Sawal, tidak ada tanda perkelahian sebelum ia tewas. Sebab, kalau ada pertengkaran dan menyusul tewas sang editor Metro TV menurutnya rumput dan pohon kecil di situ tercakar atau rata ke tanah. "Kalau bertengkar otomatis rumput keinjak-injak ya, itu enggak," ujarnya. Ia mengakui Yodi tewas dengan kaki masih terpasang sepatu hitam dengan lis merah.

Namun baju berwarna hijau yang dikenakan sang mayat tampak mulai sesak. Sementara tubuh mayat itu kelihatan mulai bengkak. "Waktu saya lihat, bajunya sudah tidak kendor lagi," ujarnya. Di situ ia menaruh curiga bahwa keberadaan mayat sang editor sudah sekitar dua hari.

Beberapa pedagang di sisi jalan mengaku bahwa sejak Rabu malam, terdapat sebuah motor terparkir tepat di depan kios penjual bensin yang berdampingan dengan mebel Sawal. Motor sudah dari Rabu malam. "Di senter-senter sama siskamling, tak ketemu orangnya," ujar pemilik bengkel las, Khotib.

Fahrurodji, 55 tahun, menyampaikan keterangan yang pernah didengar dari warga, sepeda motor Beat warna putih itu terparkir dengan kunci tergantung di motor, yang diparkir tepat di bawah pohon mahoni. "Motornya tertinggal di sini," tutur Fahrurodji sambil menunjuk pohon mahoni yang berada tepat di depan kios Alia.



Fahrurodji, yang mengaku biasa menutup kios pada waktu magrib, itu menambahkan ketika pemilik motor tak ditemukan, oleh petugas ronda malam kendaraan roda dua itu langsung diantar ke Kepolisian Sektor Pesanggrahan.

Kepada Tempo, Alia, 68 tahun, menyatakan bahwa lingkungan sekitar mulai sepi ketika jam 10 malam. Terkait itu, perempuan lansia itu mengaku tidak tahu terkait motor yang dicurigai milik Yodi terparkir sejak Rabu malam di depan kiosnya. "Saya enggak tahu apa-apa, beneran. Di sini jam 10 sudah sepi."

Sawal, pemilik mebel Kurnia Jaya ini menyatakan anak-anak berusia sekitar delapan dan sepuluh tahun berjumlah lima orang melaporkan keberadaan mayat itu dengan tangan kosong. "Waktu lari itu enggak bawa layangan. Kalau cari layangan kan pasti bawa benang, tapi itu enggak," tutur Sawal. "Analisa saya, anak-anak itu benar cari layangan apa enggak," ucapnya.

Pria yang ditemui sejumlah bocah untuk melaporkan keberadaan Yodi, berkisah kalau mereka melihat mayat tersebut sejak Kamis, sehari sebelum tubuh Yodi ditemukan. Mereka berlari dari arah kuburan Kober menuju tempat mayat dan berdiri dari luar pagar.
"Kalau lihat napasnya, kayaknya jauh sih larinya," katanya. Mereka berlari sembari berteriak, "Lihat kanan, lihat kiri." Namun para bocah itu datang melapor sebelum mereka masuk ke lokasi mayat.

Tiga bocah yang ditemui Tempo di kawasan kuburan Kober, mengatakan mendengar cerita bahwa salah satu anak itu semalam mimpi bertemu mayat di lokasi itu. "Kalau kita dengar, katanya anak itu malamnya mimpi dulu kalau ada mayat di situ," kata Rifat, bocah yang mengenakan kaus tim sepak bola Arsenal bertulis "Ozil".

Sawal yang menunjuk tempat Yodi tengkurap berada di dekat ranting kayu trembesi. Dari situ, ia mengaku penasaran dengan bocah yang datang menunjuk tubuh mayat tergeletak itu. Namun ia ragu menyebut bahwa bocah itu disuruh orang untuk menunjuk keberadaan mayat kepada warga sekitar. "Kalau ada yang menyuruh lihat itu, kayaknya enggak tahu ya," katanya sambil tersenyum.

IHSAN RELIUBUN I DA


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT